Rabu, 18 September 2013
ISLAM DI TANAH MANDAR
ISLAM DI TANAH MANDAR
Kawasan Asia Tenggara sejak awal abad pertama Masehi telah berfungsi sebagai jalur lalu lintas perdagangan bagi para pedagang Asia Timur dan Asia Selatan. Dari kawasan Asia Selatan ini, hubungan pelayaran antara benua terus berlanjut ke Barat sebelum akhirnya mencapai benua Eropa. Melalui jalur perdagangan itu, kawasan Asia Tenggara pada abad-abad berikutnya ketika perdagangan memasuki era globalisasi abad V M, menjadi lebih ramai dengan hadirnya berbagai pedagang dan pelaut yang biasa berlayar melalui wilayah tersebut. Dampak komunikasi Internasional itu adalah masuknya pengaruh tradisi besar di kawasan Asia tenggara mulai dari pengaruh Hindu/Buddha pada abad ke I – V M, kemudian pengaruh Islam pada abad VII – XIII M, dan sejak abad ke XVII M, pengaruh Eropa sejalan dengan Kolonialisme di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya (Ambary, 1998). Menurut Hitti (1988) dalam History of The Arabs bahwa pada periode 650 – 1000 M, Islam telah tersebar melalui Afrika Utara sampai ke Benua Eropa di bagian Barat (Spanyol) dan melalui Persia ke India kemudian ke timur (Cina).
Kontak-kontak pertama antara para penyiar Islam dengan berjenis masyarakat dan kebudayaannya menunjukkan proses akulturasi dan perubahan pola pikir yang sangat jelas. Proses itu sudah tentu mencakup usaha-usaha para ulama atau muballigh dalam menghadapi pengaruh kultural dari masyarakat yang dijadikan sasaran penyiaran Islam, atau usaha-usaha untuk mencari bentuk penyesuaian terhadap ideologi baru (Kartodirjo,1992). Proses pembentukan komunitas Islam makin jelas semenjak munculnya kerajaan-kerajaan Islam pada akhir abad XIII M, hingga pusat-pusat kekuasaan Islam itu terbentuk dan berkembang mulai abad XVI M. Sejak itulah berbagai kekuatan dan kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Nusantara.
Konsep Negara Republik Indonesia belumlah lama, Secara formal negara Republik Indonesia barulah berjalan setengah abad, namun beberapa abad sebelumnya konsep negara dalam bentuk kerajaan sesungguhnya sudah dikenal dan dipraktekkan di berbagai wilayah yang sekarang menjadi Indonesia. Tiap-tiap daerah di Indonesia telah mempunyai sejarah sendiri. Adalah menarik dan penting untuk meneliti dan menggambarkan perkembangan masing-masing sejarah daerah itu, atau mengungkapkan identitas budaya lokal dan dinamikanya di abad XXI M. ini.
Diketahui, tersiarnya agama Islam di Archipelago (Nusantara) terutama Sumatera dan Jawa diperkirakan terjadi pada abad XIII dan XV M, sementara ke Sulawesi Selatan baru sekitar abad XVII M. Keterlambatan ini disebabkan kerajaan Gowa baru dikenal sebagai kerajaan dagang pada akhir abad XVII M. (Sewang, 1997). Sejalan dengan hal tersebut, kehadiran para pedagang Muslim di Nusantara telah membawa perubahan-perubahan pada aspek ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya serta memperkuat jaringan sampai ke timur dan menghidupkan kepulauan dengan produksi rempah-rempah yang dibutuhkan di pasar dunia (Fadillah, 1998).
Kehadiran para pedagang muslim ke Sulawesi Selatan tersebut menimbulkan interaksi atau hubungan antara para pedagang muslim dengan penduduk setempat yang tertarik atau memungkinkan telah memeluk agama Islam sebelum kerajaan Gowa Tallo menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan. Terjadinya interaksi demikian juga dialami para pedagang Makassar di perantauan. Sumber Portugis dan Makassar, menjelaskan bahwa orang Melayu sudah menetap di Makassar dan tempat lainnya di pantai Barat Daya Sulawesi Selatan (Noorduyn, 1972).
Bukti lebih nyata tentang pengaruh perkembangan agama Islam di Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa hal itu terjadi ketika raja Gowa menganut agama Islam. Kejadian itu dapat dianggap sebagai titik penting dalam perkembangan Islam di Sulawesi Selatan. Tokoh yang pertama memeluk agama Islam ialah raja Tallo yang menjadi Mangkubumi (Pabbicarabutta) di kerajaan Gowa yang bernama I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka. Ia menganut Islam pada hari Jum’at Jumadil Awal 1014 H, atau 27 September 1605 M, sehingga ia kemudian diberikan gelar Sultan Awalul Islam (Daeng Patunru, 1969), seperti dengan dilakukannya sembahyang Jum’at bersama di Tallo pada tanggal 19 Rajab 1018 H, atau 9 November 1607 M. (Noorduyn, 1972).
Perkembangan Islam di Sulawesi Selatan berjalan tidaklah bersamaan, kemungkinan kerajaan-kerajaan di daerah ini ada yang menolak dan menerima Islam pada awalnya. Seperti tiga kerajaan Bugis yang tergabung dalam aliansi Telumpoccoe, yaitu Bone, Soppeng dan Wajo. Ketiga kerajaan tersebut pada mulanya menolak seruan penguasa kerajaan Gowa-Tallo, sehingga terjadi perang antara kerajaan Makassar yang terdiri dari Gowa-Tallo dan aliansi kerajaan Bugis (Bone, Soppeng dan Wajo) (Rasdiyanah, 1995). Namun pada akhirnya, kerajaan yang menentang tersebut menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan dan rakyatnya.
Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu daerah tempat tumbuh dan berkembangnya negara-negara yang berbentuk kerajaan kerajaan diperkirakan sejak abad XIV M., yang salah satunya terletak di tanah Mandar. Apabila kerajaan Bugis dan Makassar telah banyak diteliti oleh para sejarawan dan arkeolog, sebaliknya kerajaan-kerajaan di tanah Mandar sampai saat ini kurang menarik perhatian para peneliti, karena terbatasnya sumber-sumber tertulis terutama lontara-lontara, sumber-sumber asing dan terbatasnya tinggalan-tinggalan arkeologi Amara’diang Balanipa, padahal terbentuknya kerajaan-kerajaan di daerah pantai wilayah Mandar itu tidak kurang menariknya untuk diteliti, bahkan kemungkinan sama kompleksnya dengan kerajaan-kerajaan bagian sebelah selatan yaitu sebuah negara atau proses ke arah bentuk konfederasi. Pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan di tanah Mandar itu, tidak terlepas dari maju pesatnya perdagangan di kawasan Asia Tenggara dan beberapa wilayah di Nusantara.
Seiring dengan perkembangan Islam tersebut, di tanah Mandar, sejak permulaan abad XVI M, telah berdiri empat belas kerajaan lokal yang terbagi atas dua kelompok, yaitu konfederasi Pitu Babana Binanga Pitu Ulunna Salu (tujuh kerajaan di muara sungai dan tujuh kerajaan di hulu sungai). Kelompok pertama terdiri atas; Balanipa, Sendana, Majene, Tappalang, Pamboang, Benuang dan Mamuju. Kelompok kedua terdiri atas kerajaan Tabulahan, Rantebulahan, Mambi, Bambang, Matangnga, Aralle dan Tabang. Keempat belas kerajaan tersebut membentuk suatu konfederasi yang melahirkan ikatan Sipamandar (saling memperkuat), (Syah, 1994).
Perjalanan sejarah amara’diang-amara’diang (kata amara’diang pertama digunakan oleh Rahman (1988)) di tanah Mandar ini, sebelum terbentuknya persekutuan itu setiap saat terjadi perang antara Amara’diang Babana Binanga dengan Amara’diang Ulunna Salu. Krisisi politik antara dua kelompok itu, kemudian dapat didamaikan oleh Tomepayung (Raja Balanipa II) dengan menanamkan rasa persaudaraan mereka, yaitu rasa kesadaran persamaan budaya, sejarah dan darah (Syah, 1994).
Pembinaan amara’diang-amara’diang di tanah Mandar dapat dikatakan dipelopori oleh Mara’dia Balanipa ke-2 (Mara’dia Tomepayung). Keberhasilan pembinaan itu, membuat Amara’diang Balanipa menjadi terkemuka dan pada akhirnya menjadi induk amara’diang. Amara’diang Balanipa tersebut dikepalai oleh seorang raja (Mara’dia) dengan didampingi oleh seorang Mara’dia Matoa serta sepuluh orang anggota hadatnya. Raja sebagai lambang amara’diang dan Mara’dia Matoa sebagai ketua dari anggota-anggota hadatnya yang terdiri dari: Pa’bicara Kaiyang, Pa’bicara Kenje, Pappuangan Limboro, Pappuangan Biring Lembang, Pappuangan Lambe, Pappuangan Koyong, Pappuangan Luyo, Pappuangan Lakka, Pappuangan Rui dan Pappuangan Tenggelang (Rahman, 1988).
Amara’diang Balanipa merupakan salah satu pusat pemerintahan dan sekaligus perdagangan seperti halnya Makassar dan tempat-tempat lain di tanah Bugis. Berdasarkan pada perjanjian Tammajarra I dan II dan ikrar bersama di Luyo, amara’diang Balanipa dianggap sebagai induk amara’diang, di samping tempatnya yang sangat strategis, rakyat Balanipa juga jauh lebih maju atau lebih banyak dibandingkan dengan rakyat amara’diang-amara’diang tetangganya (Syah, 1994).
Sebelum amara’diang itu menerima Islam sebagai agama resmi amara’diang, dalam pemerintahannya diwarnai oleh situasi dan kondisi di mana raja dan rakyat menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Pertentangan dan perselisihan, suasana damai dalam masyarakat juga diwarnai oleh penyakit rohaniah yang telah merasuk dalam jiwa mereka, baik dari kalangan atas maupun dari masyarakat bawah. Jika penyakit semacam itu merasut dalam jiwa golongan atas mereka akan menjadi angkuh, sombong dan takabbur dan jika merasuk dalam jiwa golongan masyarakat bawah, mereka akan sakit hati, iri, dengki, dendam dan dusta (Syah, 1998)
Setelah agama Islam tersiar di tanah Mandar dan diterima oleh Amara’diang Balanipa pada permulaan abad XVII M. (Rahman, 1988), pemerintah Amara’diang beserta rakyatnya menganut agama Islam sebagai agama resmi mereka dan sejak saat itu pemerintahan dijalankan berdasarkan idiologi Islam (al-Qur’an dan Hadits) serta rakyat hidup dalam tatanan kehidupan yang Islami pula. Dalam urusan keagamaan diangkat seorang hadat oleh mara’dia yang bergelar Kadhi (kali), yaitu penghulu syara’ masyarakat yang disebut Mara’dia Syara’. Kadhi mengurus hal-hal yang berhubungan dengan urusan pengembangan agama dan pendidikan agama (Rahman, 1988). Karena pengembangan agama dan tuntutan zaman pada waktu itu, maka hadat sepuluh itu berkembang pula tugasnya, seperti: Khadi (kali) yang tugas pokoknya sebagai kepala urusan pengadilan, Pa’bicara Kenje sebagai kepala urusan Istana (Sekretaris kerajaan), Pappuangan Limboro sebagai kepala urusan dalam negeri, Pappuangan Biring Lembang sebagai kepala urusan luar negeri, Pappuangan Koyong, Pappuangan Lambe, Pappuangan Luyo, Pappuangan Lakka, Pappuangan Rui dan Pappuangan Tenggelang masing-masing sebagai kepala urusan wilayahnya atau tugas-tugas tertentu, misalnya mengurus Bandar perdagangan. (Syah, 1994).
Menurut beberapa sumber bahwa Islamisasi di Mandar terjadi dalam dua tahap. Pertama Islamisasi perorangan oleh Syeikh Abdul Mannan dari Demak yang mengislamkan Banggae (Bernadetta, dkk, 1998) dan kedua Islamisasi Politis setelah penguasa di tanah Mandar memproklamasikan Amara’diang itu menjadi Muslim pada tahun 1608 M. (Bernadetta AKW, dkk, 1998). Hal yang sama dikemukakan oleh Perlas (1985), bahwa tahun 1608 Sawitto, Bacukiki, Suppa dan Mandar di Pantai Barat memeluk Islam.
Penerimaan agama Islam di Amara’diang Balanipa terjadi sekitar tahun 1610 M, yakni beberapa tahun setelah Raja Gowa-Tallo dan rakyatnya memeluk Islam (Saharuddin, 1985). Dalam Lontara Napo Mandar yang berbahasa Mandar, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menyebutkan, “Inilah surat tuan di Binuang, beliaulah yang mengislamkan kami (h. 123) (Dikutip oleh Syah, 1992). Selanjutnya diceritakan, “…Persetujuan Kanna Ipattang dengan Tuanta Tosalama bernama Abdurrahim Kamaluddin…” (h. 199) (Dikutip Syah, 1992). Dari sumber ini, nyatalah bahwa pada periode pemerintahan Kakanna Ipattang yang digelari Daetta secara resmi menganut Islam dan agama Islam menjadi agama resmi Amara’diang dan rakyatnya. Tentang tokoh penyebar Islam di Balanipa itu adalah Syeikh Abdurrahim Kamaluddin.
Tersiarnya agama di Sulawesi Selatan telah membawa perubahan besar dalam tatanan hidup masyarakat, agaknya demikian pula di Mandar. Penulis mencoba mengungkapkan bagaimana nilai-nilai Islam diimplementasikan ke dalam sistem politik pemerintahan Amara’diang Balanipa. Mengingat eksistensi struktur organisasi dan nilai pengawasan pemerintahan Amara’diang Balanipa Mandar pada abad XVII-XVIII M. memegang peranan yang begitu penting di tanah Mandar, baik bagi Amara’diang Balanipa itu sendiri maupun masyarakat Mandar pada umumnya, sejak Amara’ding itu menerima Islam sebagai agama resmi amara’diang dan agama rakyatnya.
Amara’diang Balanipa dikenal sebagai salah satu tempat perdagangan yang penting di tanah Mandar. Amara’diang ini juga telah mengadakan hubungan dengan kekeraengan (kerajaan) Gowa, (Fadillah, 2001:51) baik di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Sehingga tidak mengherankan bila kemajuan perdagangan telah dialami amara’diang itu. Hal itu terbukti dengan banyaknya pedagang melakukan pelayaran untuk berdagang baik dari Mandar sendiri maupun dari luar. Orang-orang Balanipa sendiri melakukan perdagangan ke Gowa, Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Maluku. Sebagai muatan yang disukai biasanya barang-barang seperti tembikar, tembaga, berbagai barang kelontong dan makanan. Muatan balik itu tentunya dijual di dalam negeri (Depdikbud, 1994/1995).
Pengertian tentang Kekuasaan
Mengawali konsep tentang kekuasaan dan pemerintahan ini Dahl (1950) mengatakan bahwa kekuasaan mencakup kategori hubungan kemanusiaan yang luas, misalnya: hubungan yang berisi pengaruh otoritas, persuasif, dorongan, kekuasaan, tekanan dan kekuasaan fisik. Pandangan serupa dikemukakan Lasswell (1950) bahwa kekuasaan adalah hubungan kemanusiaan yang diharapkan terwujud dan dalam kenyataan diberi sangsi berupa hukuman yang keras. Konsep yang berbeda ditemukan dalam karya Kousoulas, (1968) menegaskan bahwa: “Certain People have the capacity to make other human beings do what they would not or dearly have done of their own accord. This capacity is the essence of power”. Esensi kekuasaan adalah kemampuan yang memungkinkan seseorang dapat menjadi orang lain melaksanakan sesuatu yang biasanya ia tidak melakukannya dengan kehendaknya sendiri.
Soltou (1960) menyatakan bahwa kekuasaan adalah kemampuan memenangkan keinginan seseorang atas keinginan orang lain. Ia juga melihat kekuasaan dengan pendekatan sosiologis dengan mengemukakan bahwa kekuasaan sebuah hubungan antara manusia yang sangat penting untuk mengatur kehidupan manusia. Menurut pandangannya, di dalam diri manusia memang terdapat hasrat yang masing-masing merupakan kekuatan yang diperlukan untuk membentuk, mengembangkan atau menguatkan bahkan melemahkan masyarakat. Hasrat-hasrat tersebut merupakan kekuatan sosial yang menjadikan masyarakat bergerak sehingga kepentingan-kepentingan dapat terpenuhi melalui penggabungan dan penyelarasan.
Kekuasaan adalah kemungkinan bagi seseorang dalam hubungan sosial berada dalam suatu posisi untuk melaksanakan keinginannya sendiri walaupun ada perlawanan (Weber, 1974). Dan kekuasaan dipergunakan jika seseorang atau kelompok sosial lainnya, tetapi tidak memiliki hal yang sama nilainya sebagai pengganti, sehingga barang atau jasa yang dibutuhkan tersebut hanya dapat diperolehnya dengan tunduk atau patuh terhadap kekuasaan mereka yang menguasai barang atau jasa (Blau, 1964).
Kekuasaan adalah amanah (kepercayaan) karena itu untuk orang-orang yang beragama kekuasaan harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan mereka yang di bawah kekuasaannya (Noer, 1983: 46). Gagasan kekuasaan sebagai amanah mengandung makna kekuasaan itu merupakan suatu obyek yang dilimpahkan kepada manusia dan karena itu makna pertanggungjawaban melekat pula padanya. Artinya bahwa setiap orang yang diberi kekuasaan wajib mempertanggungjawabkan penggunaan kekuasaan tersebut.
Konsep tentang kekuasaan tidak akan terlepas dari wilayah atau negara itu sendiri yang dipegang sebagai amanah. Kelemahan manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, dan terdapatnya keanekaragaman dan perbedaan bakat, pembawaan, kecenderungan alami serta kemampuan, semua itu mendorong manusia untuk bersatu dan saling membantu, dan akhirnya sepakat untuk mendirikan kerajaan atau negara. Artinya bahwa, sebab lahirnya negara adalah hajat umat manusia untuk mencukupi kebutuhan mereka bersama dan otak mereka yang mengajari tentang cara bagaimana saling membantu dan tentang bagaimana mengadakan ikatan satu sama lain (Sjadzali, 1993: 6). Ia juga menulis bahwa dari segi politik negara itu memerlukan enam studi utama, yaitu : “(1) Agama yang dihayati. Agama diperlukan sebagai pengendali hawa nafsu dan pengawas melekat atas hati nurani manusia karenanya merupakan sendi yang terkuat bagi kesejahteraan dan ketenangan negara, (2) Penguasa yang berwibawa. Dengan wibawanya dia dapat mempersatukan aspirasi-aspirasi yang berbeda dan membina negara untuk mencapai sasaran-sasarannya yang luhur, menjaga agar agama dihayati, melindungi jiwa, kekayaan dan kehormatan warga negara, serta menjamin mata pencaharian mereka, (3) Keadilan yang menyeluruh. Dengan menyeluruhnya keadilan akan tercipta kekerabatan antara sesama warga negara, menimbulkan rasa hormat dan ketaatan kepada pemimpin, menyemarakkan kehidupan rakyat dan membangunkan minat rakyatnya untuk berkarya dan berprestasi, (4) Keamanaan yang merata. Dengan meratanya keamanan, rakyat menikmati ketenangan bathin dan dengan tidak adanya rasa takut akan berkembang inisiatif dan kegiatan serta daya kreasi rakyat. Meratanya keamanan adalah akibat menyeluruhnya keadilan, (5) Kesuburan tanah yang ber-kesinambungan. Dengan kesuburan tanah, kebutuhan rakyat akan bahan makanan dan kebutuhan materi yang lain dapat dipenuhi, dan dengan demikian dapat dihindarkan perebutan dengan segala akibat buruknya, dan (6) Harapan kelangsungan hidup, dalam kehidupan manusia tersebut terdapat kaitan yang erat antara satu generasi dengan generasi yang lain”.
Hubungan antara kekuasaan dan negara, perlu kehadiran seorang kepala pemerintahan atau seorang raja (mara’dia) untuk memimpin atau memelihara kerajaan (amara’diang) tersebut begitu pula di tanah Balanipa pada waktu itu. Ibnu Khaldum (dikutip oleh Sjadzali, 1993: 100), mengatakan bahwa kehadiran pemerintahan (raja) adalah sebagai penengah, pemisah dan sekaligus hakim, itu merupakan suatu masyarakat kerajaan. Dengan kata lain, jabatan raja adalah suatu lembaga yang alami bagi kehidupan.
Al-Qur’an menerangkan sejumlah ayat yang mengandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Di antaranya ayat tersebut mengajarkan tentang kedudukan manusia di bumi dan tentang yang harus diperhatikan dalam kehidupan kemasyarakatan dan bernegara, seperti prinsip-prinsip bermusyawarah, ketaatan kepada pemimpin dan keadilan. Prinsip-prinsip yang bersumber pada ajaran Islam tersebut sebagai berikut:
(1). Kedudukan manusia di Bumi
“Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau beri kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al-Imran, ayat: 26) (Dikutp oleh Departemen Agama, 1989).
Selanjutnya “Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian dari kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk menguji kalian tentang apa yang Dia berikan kepada kalian. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya dan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al-An’am ayat: 165).
(2). Musyawarah
“Maka karena rahmat Allahlah berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Al-Imra: ayat 159) (Dikutip oleh Departemen Agama, 1989).
(3). Ketaatan Kepada Pemimpin
“Maka orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah ddan hari kemudian yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik kesudahannya“. (An-Nisa: ayat 59) (Dikutip oleh Departemen Agama, 1989).
(4). Keadilan
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan” (An-Nahl: 90). Selanjutnya dijelaskan bahwa “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila menetapkan hukum di antara mereka hendaknya kalian menetapkan dengan adil“. (An-Nisaa: ayat 58) (Dikutip oleh Departemen Agama, 1989).
2. Pengertian Pemerintahan
Menurut Musanef (1993), bahwa pemerintahan adalah segala daya upaya suatu negara untuk mencapai tujuannya, dan tujuan itu tergantung pada tipe yang melekat pada negara tersebut. Pengertian lain ditegaskan oleh Pamuji (1982), bahwa pemerintahan apabila dilihat dalam arti luas adalah perbuatan memerintah yang dilakukan oleh organ-organ atau badan-badan legislatif, eksekutif dan yudikatif dalam rangka mencapai tujuan negara. Sedangkan dalam arti sempit adalah perbuatan pemerintah yang dilakukan oleh organ eksekutif dan jajarannya dalam rangka mencapai tujuan pemerintahan negara, dengan demikian pemerintahan adalah suatu organisasi di dalamnya diletakkan hak untuk melaksanakan kekuasaan tertinggi.
Menurut Ibnu Taimiyah (dikutip oleh Munawir Sjadzali, 195: 83) bahwa mendirikan suatu pemerintahan untuk mengelola urusan merupakan kewajiban agama yang paling agung, karena agama tidak mungkin tegak tanpa pemerintahan. Umat manusia tidak akan mampu mencukupi semua kebutuhannya tanpa kerjasama dan saling membantu dalam kehidupan kelompok, dan tiap kehidupan berkelompok atau bermasyarakat memerlukan seorang kepala atau pemimpin. Oleh karena itu, Islam yang mengandung sejumlah peraturan, hukum-hukum dan undang-undang yang tidak akan terlaksana jika tidak ada suatu lembaga yang melindungi dan mengawasi pelaksanaannya. Tentang pemerintahan ini, banyak intelektual Islam memberi pengislaman dengan arti kata imamah yang mengandung makna melindungi agama dan mengatur urusan duniawinya orang banyak.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, jelaslah bahwa Islam adalah salah satu agama yang mencakup di dalamnya urusan-urusan pemerintahan, ketatanegaraan, peribadatan dan pimpinan. Ia mewajibkan atas umatnya membentuk suatu pemerintahan, kewajiban mana jika dialpakan dan tidak dilaksanakan akan berdosalah mereka karena meninggalkan perintah Tuhannya; misalnya di dalam Islam diperintahan “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara (menjalankan pemerintahan) di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (Al-Maidah: 49) (Dikutip oleh Departemen Agama, 1989).
B. Konsep Tentang Nilai Islam, Struktur dan Fungsi Pemerintahan
1. Nilai Islam
Menurut Soekanto (1993: 55) bahwa nilai adalah suatu konsep abstrak dalam diri manusia, mengenai apa yang baik dan apa yang buruk, yang baik akan dianutnya sedangkan yang buruk akan dihindarinya. Sistem nilai akan timbul atas dasar pengalaman-pengalaman manusia di dalam berinteraksi yang kemudian membentuk nilai-nilai positif dan negatif. Sistem nilai-nilai sangat penting bagi pergaulan hidup. Sebab, nilai merupakan abstraksi dari pengalaman pribadi seseorang, nilai-nilai tersebut senantiasa diisi dan bersifat dinamis dan nilai-nilai merupakan kriteria untuk memilih tujuan hidup, yang terwujud dalam prilaku.
Al-Qur’an menegaskan bahwa Tuhan adalah Allah. Allah itu tidak terbatas pemilik pengetahuannya, Yang Maha Bijaksana, Maha Pemurah, Maha Pengasih, yang pertama dan yang terakhir. Allah itu tidak terbatas, tidak hanya dalam arti ruang dan waktu, tapi dalam arti bahwa Dia memiliki kemampuan yang tak terbatas pula. Dia mewahyukan kepada manusia bukan diri-Nya, melainkan sebagian dari sifat-sifat-Nya. Dan dari sifat-sifat Allah itulah sistem nilai dalam Islam itu berasal.
Islam adalah agama yang telah ada sejak adanya manusia, din al-fitrah. Islam menegaskan kebenaran abadi. Kata Islam berarti berserah diri kepada Tuhan, sebagai suatu jalan hidup. Islam mencakup seluruh aspek eksistensi dan tingkah laku manusia.
Sesungguhnya Islam, selalu mengungkapkan bahwa Islam adalah untuk alam semesta bagi kebaikan semua orang (rahmatan lilalamin). Jadi bukan untuk kebaikan orang Islam itu sendiri, akan tetapi untuk semua orang. Misalnya menciptakan kemakmuran itu suatu nilai, nilai adalah hasil penelitian atau pertimbangan moral, disebut Islam atau tidak itu adalah suatu kebaikan, dan semua orang akan merasakan nilai kebaikan itu (Madjid, 1998).
Umat Islam memahami, bahwa dari al-Qur’an dan Sunnatullah, yaitu sebagai kerangka pedoman mutlak, sistem nilai Islam berasal. Dengan begitu umat Islam boleh mengatakan bahwa aspek-aspek dasar yang ada dalam peradaban manusia dengan semua makhluk lain di alam raya tentang tanda-tanda kemuliaan manusia, lewat tindakan yang berlebih-lebihan, keteraturan, keserasian, kesucian dan keindahan dapat tercipta. Ini semua merupakan unsur ketetapan dan nilai dalam budaya dan peradaban (Sardan, 1993:). Ia juga menegaskan bahwa dengan suatu kerangka pengetahuan yang begitu jelas (al-Qur’an dan Sunnah). Jadi nilai Islam adalah nilai-nilai kebaikan, konsep-konsep, cita-cita, sifat-sifat yang menggerakkan prilaku individual dan prilaku konkrit manusia sesuai dengan aturan dan tuntunan agama berlandaskan al-Qur’an dan al-Hadits.
2. Struktur Pemerintahan
Tentang struktur, Immanuel Kent (dikutip oleh Eksiklopedi, 1984) memberi definisi struktur sebagai keadaan dan hubungan bagian-bagian dari suatu organisasi yang membentuk diri menurut suatu tujuan keseluruhan yang sama. Sumber kekuasaan dalam masyarakat berkisar pada jumlah orang, organisasi sosial, dan sumber-sumber tertentu, terutama pada hubungan antara kelompok secara umum, maka suatu kelompok besar yang baik organisasinya serta sarana yang cukup, akan dapat menguasai kelompok lain yang kurang mematuhi syarat-syarat tersebut (Blersteldt, 1950).
Schermerhon (Dikutip oleh Soerjono Soekanto, 1993 dan diterjemahkan) mengungkapkan lima tipe sumber yang dapat dipergunakan untuk mengungkapkan, mengembangkan atau memperkuat struktur kekuasaan, yaitu: “(1) Military, police, or criminal power its control over violence (kekuasaan militer, polisi atau kriminal untuk mengendalikan kekerasan), (2) Economic power with control over land, wealth, or corporate production (kekuasaan ekonomi untuk mengendalikan tanah, tenaga kerja, kekayaan maupun produksi), (3) Political power with control legitimate and ultimate decision making within a specified terrorist (kekuasaan politik untuk mengendalikan pengambilan keputusan yang sah dan resmi), (4) Traditional or ideology power involving control over belief and value systems, religion, education, specialized knowledge, and propaganda (kekuasaan tradisional atau ideologi untuk mengendalikan sistem kepercayaan dan nilai-nilai agama, pendidikan, pengetahuan khusus, dan propaganda), dan (5) Diversionary power control over hedonic interest, recreation and enjoyment (kekuasaan diversioner untuk mengendalikan kepentingan hedonis, rekreasi dan pemenuhan kebutuhan sekunder).
Perumusan tentang struktur kekuasaan yang lain terdapat istilah pihak atau pihak-pihak. Istilah itu menunjukkan pada pribadi atau kelompok sehingga menimbulkan kemungkinan logis, yaitu: “(1) Prilaku pribadi menguasai prilaku pribadi lainnya; (2) Prilaku pribadi menguasai prilaku kelompok, (3) Prilaku suatu kelompok menguasai prilaku pribadi, dan (4), Prilaku suatu kelompok menguasai pribadi kelompok lainnya pada pelbagai pusat kekuasaan atau struktur kekuasaan (Soekanto, 1993: 375). Sehingga menimbulkan kecenderungan-kecenderungan dinamis yang bersatu padu dengan pertumbuhan struktur kekuasaan, seperti: “(a) Transformasi tipe kekuasaan terjadi dengan mudah pengendalian terhadap kekerasan dapat diubah menjadi kekuasaan atas tanah; pengendalian terhadap harta kekayaan dapat diubah menjadi diversionary power; pengendalian terhadap sistem kepercayaan atau operasi militer. Transformasi-transformasi tersebut memperkenalkan perubahan-perubahan penting pada cara-cara berinteraksi dalam masyarakat, (b) Kekuasaan bersifat komulatif; suatu tipe kekuasaan tertentu cenderung untuk meluas ke bidang-bidang lainnya. Timbulnya kekuasaan menimbulkan bentuk perubahan baru dalam masyarakat, (c) Perkembangan dari struktur kekuasaan mungkin menimbulkan struktur tandingan, (d) Kepentingan-kepentngan bersifat dualistik dan tidak stabil oleh karena mempunyai aspek publik dan privat, dan (e) Fungsi pengambilan keputusan diperankan oleh suatu kelompok kecil yang mempunyai tanggung jawab terhadap massa”.
Al-Qur’an memerintahkan agar hukum-hukum syari’at yang terkandung di dalamnya ditegakkan dalam kehidupan manusia sebagai tertib individu dan sosial. Perintah tersebut berimplikasi pemberian wewenang kepada manusia untuk menata kehidupannya dengan menerapkan hukum Allah tersebut. Penerapan hukum-hukum syari’at itu telah terwujud dalam pemerintahan yang dijalankan oleh mara’dia di tanah Balainapa pada waktu itu, dan dari sini diperoleh pengertian bahwa hakikat kekuasaan yang dijalakan mara’dia adalah kewenangan untuk menyelenggarakan tertib masyarakat berdasarkan hukum Allah. Kekuasaan tersebut bersumber dari Allah dan dilimpahkan melalui firman-Nya (al-Qur’an) kepada orang beriman. Penyelenggaraan tertib masyarakat berdasarkan hukum Allah itulah yang merupakan perwujudan dari kekuasaan (Salim, 1995: 292-293). Selanjutnya ia menjelaskan tentang nilai Islam dan struktur pemerintahan tidak terlepas dari aspek seperti:
- “Kedudukan manusia di muka bumi mengandung makna bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh seorang pemerintah (penguasa) adalah amanah Allah dan juga ba’iat (pengangkatan). Karena itu, hal ini menghendaki agar pemerintah (mara’dia) melaksanakan tugas-tugasnya dengan memenuhi hak-hak yang diatur dan dilindungi yang dibebankan oleh agama dan yang dibebankan oleh masyarakat dan perorangan sehingga tercapai masyarakat yang sejahtera dan sentosa.
- Musyawarah mengandung makna menghendaki agar hukum-hukum perundang-undangan dan kebijakan politik ditetapkan oleh mara’dia melalui musyawarah yang diperselisihkan antara para peserta musyawarah baru diselesaikan dengan menggunakan ajaran-ajaran dan cara-cara yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah.
- Taat kepada pemimpin mengandung makna wajibnya hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah ditaati. Kewajiban taat itu tidak hanya dibebankan kepada rakyat, tetapi juga dibebankan kepada pemerintah (mara’dia). Oleh karena itu, hukum perundang-undangan dan kebajikan pemerintah yang diambil harus sejalan dan tidak boleh bertentangan dengan hukum agama. Jika tidak demikian, maka kewajiban rakyat kepada hukum dan kebajikan yang bersangkutan telah gugur, karena agama melarang ketaatan kepada kemaksiatan.
- Keadilan mengandung makna bahwa pemerintahan amara’diang Balanipa berkewajiban mengatur masyarakatnya dengan membuat aturan-aturan hukum yang adil berkenaan dengan masalah-masalah yang telah diatur secara rinci atau diidamkan oleh hukum Allah. Dengan begitu, penyelenggaraan pemerintah berjalan di atas hukum dan bukan atas dasar kehendak pemerintah atau pejabat. Adanya kriteria keadilan dalam pembuatan hukum yang dibuat itu berorientasi kepada fitrah atau kodrat manusia di muka bumi.”
3. Fungsi Pemerintahan
Almond (1970: 17) mengungkapkan bahwa kegiatan-kegiatan politik sebagai fungsi-fungsi pemerintahan dalam dua kategori: fungsi-fungsi masukan (input functions) dan fungsi-fungsi luaran (output functions), yang pertama adalah fungsi-fungsi yang sangat penting dan menentukan cara kerja sistem dan yang diperlukan untuk membuat dan melaksanakan kebijaksanaan dalam bidang politik. Fungsi-fungsi masukan menurut Theodorson (1969), sosialisasi politik. Sosialisasi politik antara lain berarti proses sosial yang memungkinkan seseorang menjadi anggota kelompoknya. Dalam hal ini. Ia harus mempelajari kebudayaan kelompoknya dan peranannya dalam kelompok.
Mas’oed, (1970) yaitu fungsi artikulasi kepentingan. Fungsi ini merupakan proses penentuan kepentingan yang dikehendaki dalam sistem politik. Dalam hal ini, rakyat menyatakan kepentingan mereka kepada lembaga-lembaga politik atau pemerintahan melalui kelompok-kelompok kepentingan yang mereka bentuk bersama dengan orang lain yang memiliki kepentingan yang sama.
Almond, (1970) meliputi 3 (tiga) fungsi, yakni : (1) Rekrutmen politik, yang dimaksud adalah proses seleksi warga masyarakat untuk menduduki jabatan politik dan administrasi, (2) Agresi kepentingan. Fungsi ini adalah proses perumusan alternatif dengan jalan penggabungan, atau penyesuaian kepentingan-kepentingan yang telah diartikulasikan atau dengan merekrut calon-calon pejabat yang menganut pola kebijaksanaan tertentu, dan (3) Komunikasi Politik. Fungsi ini merupakan alat untuk penyelenggaraan fungsi-fungsi lainnya.
Fungsi-fungsi keluaran meliputi fungsi pembuatan aturan (rule making), pelaksanaan aturan-aturan hukum (rule application), dan pengawasan atau pelaksanaan aturan-aturan hukum (rule adjection) (Almond, 1970).
Fungsi-fungsi pemerintahan di atas, telah ditemukan antara lain dalam karya Aristoteles, (Dikutip oleh Jowet dan Twinning, 1952) menyatakan: All constitutions have three elements concerning which the good lawgiver has to regard what is expedient for each constitution when they are well ordered the constitution is well ordered, and as they differ from one another, constitution differ. There is (1) one element which deliberates about public affairs; secondly (2) that concerned with the magistracies-the question being, what they should be, over what they should exercise authority, and what should be the mode of electing them; and thirdly (3) that witch has judicial power.”
Kutipan di atas dengan tegas menyatakan adanya tiga fungsi pemerintahan, yaitu fungsi pembahasan, administrasi dan pengadilan (Noer, 1982: 34). Meskipun di dalam al-Qur’an tidak mengemukakan secara eksplisit tentang struktur, organisasi dan sistem kekuasaan politik dan pemerintahan. Akan tetapi ditegaskan bahwa kekuasaan politik dijanjikan kepada orang-orang beriman dan beramal shaleh. Oleh karena itu, sistem politik sangat terikat dengan kedua faktor tersebut. Pada sisi lain keberadaan sebuah sistem politik terkait dengan ruang dan waktu. Ini berarti ia adalah budaya manusia sehingga keberadaannya tidak dappat dilepaskan dari dimensi kesejarahan. Karena itu lahirnya sistem politik pemerintahan Islami harus ditelusuri dari peristiwa sejarah.
Peristiwa sejarah yang dimaksud adalah baiat sebuah perikatan berisi pengakuan dan penaklukan diri kepada Islam sebagai agama. Konsekuensi dari baiat tersebut adalah terwujudnya sebuah masyarakat muslim yang dikendalikan oleh kekuasaan yang dipegang oleh mara’dia. Sehingga terbentuklah sebuah sistem politik pemerintahan yang islami yang pertama di tanah Mandar dengan fungsi-fungsi dan struktur organisasi pemerintahan dan fungsi pengawasan yang sederhana dalam sebuah masyarakat dan negara kota.
Al-Qur’an tidak mengemukakan secara eksplisit fungsi pengawasan dan struktur organisasi pemerintahan, akan tetapi unsur-unsurnya dapat ditemukan. Seperti sosialisasi politik ditemukan dalam tugas pembangunan spiritual mara’dia dan rakyatnya. Dengan pembangunan itu norma-norma dan ajaran-ajaran agama, termasuk di dalamnya berkenaan dengan kehidupan pemerintahan, dikembangkan dengan sistem pendidikan dan pengajaran sehingga masyarakat dapat memiliki persepsi dan budaya yang sama. Dengan begitu, diharapkan warga masyarakatnya dapat melaksanakan peran masing-masing dalam kehidupan bersama, bermasyarakat dan bernegara. Pada sisi lain dengan sosialisasi politik, keyakinan dan budaya pemerintahan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konsep rekrutmen politik dapat ditemukan dalam kenyataan adanya syarat-syarat yang diperlukan untuk menjadi pemimpin (kepala pemerintahan). Adanya syarat-syarat subyektif yang relevan dengan iman dan pengabdian dan syarat-syarat obyektif yang relevan dengan kemampuan individu dan komitmen terhadap kepentingan rakyat, menghendaki proses seleksi dalam pengangkatan pejabat pemerintahan (mara’dia) dan juga mengisyaratkan fungsi tersebut bagi setiap warga yang memenuhi syarat (Salim, 1993).
Tiga fungsi lainnya, yakni artikulasi, agresi kepentingan dan komunikasi politik. Ketiga fungsi tersebut dapat diketahui, misalnya adalah dalam musyawarah yang dilakukan oleh mara’dia dengan ada’ dan rakyatnya. Tiga fungsi lainnya, yang dikenal dengan fungsi-fungsi output dapat ditemukan dalam kewajiban pemerintahan (mara’dia) dalam membuat aturan-aturan hukum yang adil, melaksanakan hukum-hukum agama dan hukum perundang-undangan, dan melaksanakan tugas pengadilan terhadap tindakan-tindakan yang menyerang dan melanggar hukum (Salim, 1993).
Konsekuensi adanya fungsi-fungsi di atas adalah adanya struktur organisasi yang dimiliki oleh sistem pemerintahan. Struktur organisasi yang paling mendasar adalah unsur lembaga pemerintahan dan unsur rakyat. Konsep tentang struktur organisasi pemerintahan itulah tentunya terkandung dalam al-Qur’an dan dari praktek pemerintahan Nabi Muhammad saw. dan khulafaurrasyidin sesudahnya.
C. Konsep Tentang Islamisasi
Menurut Noorduyn (dikutip Sewang, 1997:103) bahwa proses islamisasi di Sulawesi Selatan tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia, yaitu melalui 3 (tiga) tahap : (a) kedatangan Islam yaitu penduduk luar datang ke suatu tempat membawa Islam, (b) penerimaan Islam yaitu penduduk setempat sudah ada yang menerima Islam, dan (c) penyebarannya lebih lanjut yaitu, Islam sudah melembaga dan sudah disebarkan lebih lanjut ke daerah lain.
Pendapat yang senada dikemukan oleh H.J. De Graff (dikutip Sewang. 1997: 103) ia lebih menekankan pada pelaku islamisasi di Asia Tenggara yang dianalisisnya didasarkan pada literatur Melayu. Ia mengemukakan … that Islam was propagated in South-East Asia by three methods; that is by Muslim trades in the course of peaceful trade; by preachers and holy men who set our from India and Arabia specifically to convert unbelievers and increase the knowledge of the faithful, and lastly by force and the waging of war against heathen states’. (… bahwa Islam didakwakan di Asia Tenggara melalui tiga metode; yakni oleh para pedagang Muslim dalam proses perdagangan yang damai, oleh para dai dan orang suci (wali) yang datang dari India atau Arab yang sengaja bertujuan mengislamkan orang-orang kafir dan meningkatkan pengetahuan mereka yang telah beriman, dan terakhir dengan kekerasan dan menaklukkan perang terhadap negara-negara penyembah berhala).
D. Kerangka Pemikiran
Pola penerapan kekuasaan pemerintahan amara’diang Balanipa nilai Islam terwujud dalam bidang politik, ekonomi dan sosial budaya. Apa yang tampak pada waktu itu diyakini kekuasaan sebagai amanah. Hal ini sejalan dengan konsep bahwa kekuasaan adalah suatu karunia atau nikmat Allah yang merupakan suatu amanah kepada manusia untuk dipelihara dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan prinsip-prinsip dasar yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh sunnah Rasulullah. Kekuasaan itu kelak harus dipertanggung jawabkan kepada Allah (Azhary, 1992: 79), kekuasaan tidak terlepas dari wilayah dan sumber kekuasaan berupa jumlah orang, lembaga-lembaga dan sumber-sumber tertentu.
Tersiarnya agama Islam, sejak dari tanah Arab sampai ke Nusantara telah membawa pengaruh atau perubahan bagi penduduk pribumi pada umumnya dan Sulawesi Selatan khususnya. Tersiarnya agama Islam tersebut banyak mempengaruhi kedatuan, kekaraengan maupun amara’diang di Sulawesi Selatan terutama struktur organisasi dan nilai pengawasan pemerintahannya, khususnya di Amara’diang Balanipa Mandar.
Tersiarnya agama Islam itu, tentunya dibawa oleh para pedagang dan para ulama. Misalnya Amara’diang Balanipa di tanah Mandar. Tidak terlepas dari peranan ulama-ulama penyiar Islam. Menurut pendapat umum Islam disebarkan di tanah Balanipa oleh Syeikh Abdurrahim Kamaluddin yang dikenal dengan Tuan di Benuang. Setelah agama Islam diterima oleh Mara’dia Daetta, otomatis seluruh jajaran lembaga pemerintahan dan rakyatnya memeluk Islam. Struktur organisasi pemerintah Amara’diang Balanipa itu terdiri dari mara’dia, mara’dia matoa, mara’dia malolo, Appe Banua Kaiyang (Napo, Mosso, Samasundu dan Todang-todang), mara’dia kadhi, sawannar, sappulo sokko ada‘ yang terdiri dari pa’bicara Kaiyang, Pa’bicara Kenje, Pappuangan Koyong, pappuangan Lambe, pappuangan Lakka, pappuangan Rui, pappuangan Luyo dan pappuangan Tenggelang. Dalam pemerintahannya dituntut untuk melakukan aktivitas sesuai dengan ajaran agama Islam.
Implementasi akan ajaran-ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an, seperti yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh yaitu; terwujudnya sebuah sistem pemerintahan, berlakunya hukum Islam dalam masyarakat secara mantap dan terwujudnya ketentraman dalam kehidupan masyarakatnya. Cita-cita pemerintahan tersimpul dalam ungkapan Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur, yaitu negeri sejahtera dan sentosa.
Cita-cita ini merupakan pula ideologi Islam karena ia merupakan nilai-nilai yang diharapkan terwujud bersama nilai politik, ekonomi, sosial dan budaya lainnya. Sehingga dengan begitu diperoleh sarana dan wahana untuk aktualisasi kodrat manusia sebagai makhluk abid yang diberi kedudukan sebagai khalifah dalam membangun kemakmuran di muka bumi untuk kebahagiaan dalam kehidupan dunia akhirat.
Sesuai dengan janji Allah, cita-cita tersebut hanya dapat dicapai dengan iman dan amal. Ini bermakna bahwa manusia sebagai pemimpin dan pengolah alam harus mengakui dan mengikuti kebenaran yang dibawa oleh Muhammad saw. Manusia melakukan pembangunan spiritual dan materiil, memelihara, mengembangkan, menjaga ketertiban dan keamanan secara bersama-sama. Usaha itu pada hakikatnya adalah penerapan hukum-hukum Islam dan ajaran-ajaran agama yang murni. Dalam hal ini diwajibkan kepada setiap orang mukmin, pemegang kekuasaan (mara’dia), bahkan mara’dia merupakan pelaksana bagi tegaknya ajaran agama.
SEJARAH AWAL MASUKNYA ISLAM
DI TANAH MANDAR DAN PERKEMBANGANNYA
A.Pengantar
Topik Sejarah Awal masuknya Islam di Tanah Mandar telah menjadi objek penelitian keilmuan dan tajuk pembicaraan dalam berbagai seminar. Meskipun demikian tampak bahwa penggalan-penggalan objek studi dan pembicaraan itu masih belum diramu menjadi karya standar Sejarah awal masuknya islam di tanah Mandar. Itulah sebabnya dalam beberapa makalah seminar masih dijumpai beberapa hal yang belum baku untuk di pahami dan dijadikan dasar berpijak.
B.Pengertian
Sebagai pengertian awal dari Judul makalah ini, penulis memulai dari obyek study kajian kata “Mandar”. Ini penting diketahui karena lahirnya kata Mandar mempunyai hubungan timbal-balik dengan datangnya pengaruh budaya baru dan agama-agama baru selain agama kepercayaan yang dimiliki oleh nenek moyang mereka sendiri. pengertian Mandar. Dalam makalah dari H. Mochtar Husein (1984) diungkapkan bahwa kata Mandar memiliki tiga arti : (1) Mandar berasal dari konsep Sipamandar yang berarti saling kuat menguatkan; penyebutan itu dalam pengembangan berubah penyebutannya menjadi Mandar; (2) kata Mandar dalam penuturan orang Balanipa berarti sungai, dan (3) Mandar berasal dari Bahasa Arab; Nadara-Yanduru-Nadra yang dalam perkembangan kemudian terjadi perubahan artikulasi menjadi Mandar yang berarti tempat yang jarang penduduknya. Penulis makala ini, setelah mengajukan berbagai pertimbangan penetapan pilihan pada butir kedua, yaitu “mandar” yang berarti “sungai” dalam penuturan penduduk Balanipa. Tampaknya menyebutan itu tidak berpengaruh terhadap penamaan sungai sehingga sungai yang terdapat de daerah itu sendiri disebut Sungai Balangnipa. Selain itu masih terdapat sejumlah sungai lain di daerah Pitu Babana Binanga (PBB), yaitu sungai: Campalagiang, Karama, Lumu, Buding-Buding, dan Lariang.
Selain itu, dalam buku dari H. Saharuddin, dijumpai keterangan tentang asal kata Mandar yang berbeda. Menurut penulisnya, berdasarkan keterangan dari A. Saiful Sinrang, kata Mandar berasal dari kata mandar yang berarti “Cahaya”; sementara menurut Darwis Hamzah berasal dari kata mandag yang berarti “Kuat”; selain itu ada pula yang berpendapat bahwa penyebutan itu diambil berdasarkan nama Sungai Mandar yang bermuara di pusat bekas Kerajaan Balanipa (Saharuddin, 1985:3). Sungai itu kini lebih dikenal dengan nama Sungai Balangnipa. Namun demikian tampak penulisnya menyatakan dengan jelas bahwa hal itu hanya diperkirakan (digunakan kata mungkin). Hal ini tentu mengarahkan perhatian kita pada adanya penyebutan Teluk Mandar dimana bermuara Sungai Balangnipa, sehingga diperkirakan kemungkinan dahulunya dikenal dengan penyebutan Sungai Mandar.
Mandar seperti halnya komunitas tradisoinal dan klasik lainnya yang juga mengalami kekaburan mata rantai sejarahnya, kalau tidak kasar disebut sebagai keterputusan pintalan sejarah. Hal mana lebih di akibatkan oleh adanya kepercayaan bahwa kelahiran manusia pertama di Mandar lahir dan turun secara sporadis dari khayangan atau turun dari langit (manusia langit-pen), seperti di beberapa daerah lainnya di Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya To Manurung yang konon adalah manusia pertama di Mandar. Lahir dari belahan bambu atau yang lebih dikenal dengan To Wisse di Tallang. Atau yang lahir dan miniti dari atas buih air laut yang dikenal dengan To Kombong di Bura atau yang terbuang dari perut ikan hiu yang dikenal dengan Tonisesse di Tingalor. Hal ini tentu sulit untuk dapat dipertanggung jawabkan secara ilmia. Namun itulah realitas kesejarahan yang lalu melegenda dan di yakini adanya oleh sebagian besar masyarakat Mandar, dan Konon termaktub dalam lontar (naskah lokal-pen). Lebih jauh dari itu, To Manurung inilah kemudian yang juga di yakini menjadi cikal keturunan manusia pertama dan penguasa pertama di Tanah Mandar.
C. Awal Masuknya Islam di Mandar Berdasarkan Hikayat
Dalam kisah kesejarahan awal masuknya islam di tanah Mandar termuat banyak versi dari kalangan sejarawan Nasional maupun sejarawan Lokal Mandar sendiri. Misalnya, dari Drs. H. Mochtar Husein, saat seminar sejarah Mandar di Tinambung 1971. “masuknya agama islam di Mandar tepatnya tahun 1617 M. Dikala Arajang Balanipa IV sedang mengatur pemerintahannya untuk kemakmuran dari kerajaan di Pitu Babana Binanga, saat itulah tiba-tiba muncul seorang ulama Syech Yusuf di Gowa yang diberikan gelar “To Salamaka”.
Dalam lontarak Napo Mandar, halaman 123 disebutkan “Tamodi’e pa’annana Sura’Ituan di Benuange. Iamo mepasallang...” ( Inilah surat Tuan di Benuang. Beliaulah yang mengislamkan kami...”). Dilanjutkan pada halaman 1999 “Dassama turuanna Kanna Ipattang anna Tuanta Salama’ di sanga Abdrrahimi Kamaluddin...” (Persetujuan dari Kanna Ipattang dengan Tuanta To Salama bernama Abdurrahim Kamaluddin...”). meskipun dalam Lontarak Gowa 1877:8 dinyatakan sebagai berikut “3 Juli, 8 Sauwala’ Here 1626 Hijarasanna ...Ia anne bedeng taunga naka’anakkang I Tuan Yusuf” (Pada tahun ini konon lahir I Tuan Syeck Yusuf...). Dan orang Mandar tetap meyakini nama Abdurrahimi Kamaluddin-lah yang menyebarkan islam pertama di Mandar.
Kapan persisnya To Salama datang di Binuang? Menurut pendapat Drs. Azis Syah, awal islam datang di Binuang tepatnya pada masa pemerintahan Raja Binuang ke IV yang bernama Sippajolangi, sekitar tahun 1610 M. Tuan To Salama yang bernama Abdurrahimi Kamaluddin tetap menyebarkan agama islam sampai ke kerajaan Balanipa (wilayah Tinambung sekarang) sebelah Barat dari kerajaan Binuang tempat To Salama datang pertama kali di tanah Mandar. Penganut agama Islam pertama di Balanipa adalah Raja Balanipa sendiri Daengta Kanna I Pattang dan diikuti oleh rakyat Balanpa secara terus-menurus.
Berselang satu tahun kemudian, Syechk Abdurrahimi Kamaluddin menyiarkan islam ditanah mandar, tiba-tiba datanglah dua orang yang tidak dikenali sebelumnya meminta menjadi murid dari Tuan To Salama Binuang. Ia berjanji akan membantu menyiarkan agama islam di Mandar sampai meninggal dunia. Kedua Mubaliq itu bernama Al-Magribi dari Maroko seorang syufi dan ahli kenegaraan. Mubaliq yang kedua bernama Syekh Al Ma’ruf, ia seorang Syufi dan ahli pertanian serta bangunan, ia sendiri berasal dari Samarkan dekat Buhara Rusia Selatan. Bagi Masyarakat di sekitar Binuang kedua mubalig itu diberikan gelar sebagai “Wali”. Syehk Al-Ma’ruf diberikan gelar “wali Losa” dan Syehk Al Magribi digelari “Wali Kitta”. Dan penganjur islam ini lalu mendirikan Masjid pertama di Binuang (sekarang masjid tua itu tinggal kerangka bangunannya saja sebagai bukti sejarahnya).
D. Awal Masuknya Islam Di Mandar Secara Formal
Secara formal pengembangn islam di Mandar yang bermula di Balanipa. Pada awal abad ke 17 melalui dua jurusan. Jalur Pertama, langsung ke Balanipa dan daerah sekitarnya, yaitu Allu, Palili serta sebagian Baggae Majene dan Binuang. Penganjurnya adalah Syehk Abdurrahimi Kamaluddin alias Tuan To Salama di Binuang. Mula-mula ia mendirikan mukim sebagai tempat pendidikan/pesantren dan mendirikan masjid pertama sekarang berada di kampung Tangnga-tangnga.
Raja pertama yang memeluk islam disana adalah Daengta Kanna I Pattang alias Daengta Tommuane. Dengan masuknya islam Daengta Kanna I Pattang maka seluruh masyarakat Balanipa sudah memeluk agama islam. Jalur Kedua, dari jurusan Kalimantan langsung ke Sendana dan Pamboang. Penganjur yang pertama ialah “I Kapuang Jawa” yang bernama: Raden Mas Arya Suriodilogo. Lalu muncul Syaid Zakariyah Al-Magaribih, Raja pertama yang memeluk islam di Pamboang adalah Mara’dia Pamboang yang bergelar Tomatindo Bo’di, sedangkan di kerajaan Banggae penganjurnya ialah, Syehk Abdul Mannan alias Tuan di Salabose.
Mara’dia Banggae yang menganut agama Islam ialah Tomatindo di Masigi bergelar Mara’dia Tondok. Di Pitu Ulunna Salu, penganjurnya ialah Tuan di Bulo-bulo. Indo Kadanenek yang pertama masuk islam ialah Todilamung Sallan. Dengan masuknya Indo Kadanenek memeluk islam, lalu diikuti pula oleh Indo Lembang, Tomakaka Mambi dan Mara’dia Matangnga. Sementara di Campalagian atau Tomadio penganjurnyaa ialah Tomatindo di Dara’. Dan penyebarnya ialah Tuan di Tanase. Setelah Tuan To Salama merasa sudah cukup mengembangkan islam di Mandar lalu ia berpesan untuk dimakamkan di Binuang di pulau Tangnga sampai saat ini. Dan kuburan beliau selalu ramai dikunjungi pesiarah dari berbagai daerah.
E. Masuknya Islam Di Mandar (Persfektif Sosial – Kultur Mandar Dari Berbagi Kalangan Sejarawan)
Pada tahun 1600 Kerajaan Pasir dan Kutai telah menjadi daerah Islam. Seabad kemudian menyusul Kerajaan Berau dan Bulungan. Di Sulawesi raja Goa tahun 1603 masuk Islam. Selanjutnya raja Goa mengislamkan daerah-daerah di sekitarnya seperti Bone [1606], Soppeng [1609], Bima (1626), Sumbawa (1626) juga Luwu, Palopo, mandar, Majene menjadi daerah Islam.
Jauh abad sebelum Islam dikenal di Nusantera, utamanya pada zaman kerajaan, dimana Islam belum sempat menyentuh mereka. Mandar hampir sama persis dengan kerajaan-kerajaan atau komonitas adat lainnya di nusantara juga ketika mereka belum mengenal adanya agama (baca : agama resmi). Sehingga yang dapat di cermati dari era atau zaman tersebut adalah adanya kepercayaan yang bisah diamati pada bentuk verbal simbol-simbol budaya.Yang kemudian dikenal sebagai religi budaya.
Yusuf Akib (2003) menjelaskan bahwa, simbol-simbol tersebut digunakan sebagai media untuk mengekspresikan emosi keagamaan, dengan syarat bahwa simbol tersebut harus bisa membangkitkan perasaan dan keterikatan. Lebih dari sekedar formulasi verbal dari benda yang dipercaya sebagai lambang.
Artinya, diyakini bahwa masyarakat adat Mandar ketika itu hanya tunduk dan patuh kepada kepercayaan animisme yakni, kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda, seperti pohon, batu, sungai dan sebagainya, selebihnya adalah juga tunduk dan patuh atas kepercayaan dinamisme atau; kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup. Artinya yang berkembang pada saat itu adalah, kepercayaan yang lalu kemudian di bahasakan sebagai religi. Yang untuk itu dapat dilihat dalam lokalitas adat yang hingga kini masih menyisahkan simbol-simbol budaya dan upacara-upacara ritual kepercayaan, yang tentu diyakini dapat membangkitkan perasaan dan keterikatan.
Di Mandar khususnya di wilayah pedalaman atau pegunungan Pitu Ulunna Salu telah mengenal sebuah kepercayaan sebelum Islam banyak dianut, religi budaya yang dikenal ketika itu adalah, Adat Mappurondo yang diterjemahkan sebagai berpegang pada palsafah Pemali appa randanna. Sarman Sahudding (2004).
Sedang untuk wilayah persekutuan Pitu Ba’bana Binanga sendiri, religi budaya hanya dapat ditemui pada peninggalannya yang berupa ritual dan upacara-upacara adat yang tampaknya bisa dijadikan patokan bahwa ia bersumber dari religi budaya dan kepercayaan masa lalunya. Seperti, tradisi ritual mappasoro’ (atau melarungkan sesaji di sungai-pen). Atau mattula bala’ (menyiapkan sesaji untuk menolak musibah-pen) dan lain sebagainya yang diyakini akan membawa manfaat kepada masyarakat yang melakukannya. Dari sini jelas tampak betapa simbol-simbol budaya itu berangkat dari religi budaya, yang untuk itu tidak dikenal dalam Islam.
Sementara khusus untuk agama resmi seperti Islam misalnya, sebahagian pandangan menyebutkan, pertama dikenal oleh masyarakat Mandar pada abad ke-16 M. saat itu berawal dari adanya para pedagang dari wilayah seberang yang masuk ke Mandar. Utamanya daerah yang berada dipesisiran. Konon ketika itu Daetta Tommuane, mara’dia yang memerintah di Balanipa didatangi oleh Abdurrahim Kamaluddin seorang pembawa siar Islam dari Gowa yang kemudian dikenal dengan sebutan Tuanta Yusuf alias Tuanta di Binuang sebab terakhir ia berdiam dan lalu meninggal dan dimakamkan di Binuang Ibrahim Abbas (1999).
Menurut sejarah Tuanta di Binuang inilah kemudian yang mula pertama menganjurkan dan mengerjakan Islam dengan pendekatan populis, yakni di tingkat masyarakat paling bawah (grass root). Adapun metode yang ia gunakan adalah mendirikan pusat-pusat pengkajian dan pengajian ke-Islam-an seperti pesentren. Pesantren yang paling pertama ia bangun adalah di daerah Tangnga-tangnga. Salah satu daerah yang berada dibawah kendali wilayah Mara’dia Balanipa. Dan di Tangnga-tangnga itu pula oleh Tuanta di Binuang kemudian mendirikan Mesjid yang pertama di Tanah Mandar. Hal ini kemudian ditandai dengan simbol yang dikenal sebagai mokking patappulo diwilayah tersebut, yang kalo diterjemahkan kurang lebih berarti empat puluh orang santri. Sebagai santri yang mula pertama diasuh di pesantren tersebut.
Sepeninggalan Tuanta di Binuang inilah kemudian secara pelan namun pasti penganut agama Islam di Balanipa Kian bertambah massif, hingga ke wilayah Allu, Palili, Binuang dan sebahagian Banggae. Lalu masi pada abad yang sama, di Pamboang juga didatangi oleh dua penganjur Islam dari jawa dan bernama Raden Suryo Dilogo dan Syekh. Zakariah yang berasal dari Maghreb di daratan Afrika Utara. Berawal dari situlah kemudian Islam mula pertama dikenal di Pamboang yang kemudian diiukuti oleh Mara’dia Pamboang yang lalu bergelar Tomatindo Diagamana, yang kalau diterjemahkan kurang lebih berarti orang yang meninggal ketika ia telah menganut agamanya, yakni Islam.
Layaknya sebuah seruan kerajaan, saat Mara’dia Pamboang tersebut memeluk Islam, maka berbondong-bondong pulalah kemudian masyarakat memeluk agama yang dianut oleh sang Mara’dia. Lalu pada abad ke-17 di Salabose Banggae juga Mara’dia Tondo’ juga didatangi oleh Syekh Abdul Mannan yang digelar sebagai To Salama’ di salah seorang penganjur Islam yang kemudian diamini oleh para petinggi kerajaan di Banggae kala itu. Namun versi lain juga menyebutkan, bahwa sejarah masuknya Islam di Mandar, tidaklah dapat dipisahkan dari sejarah masuknya Islam di Sulawesi. Hal itu diperkuat oleh berita yang dilansir oleh Anthony de Paiva seorang pedagang Portugis yang pernah berkunjung ke Sulawesi pada tahun 1543 dan menandakan bahwa saudagar-saudagar muslim sudah menginjakkan kaki sebelumnya ditanah Mandar, dan itu terjadi sekitar akhir abad ke-15 M. Muh. Ridwan Alimuddin (2003).
Bahkan lebih jauh Muh. Ridwan Alimuddin menulis, sejarah masuknya Islam di Mandar juga menuai banyak pendapat, yang antara lain, melirik lontar Mandar yang menyebutkan, bahwa Abdurrahim Kamaluddin-lah yang mula pertama membawa syiar Islam ke Mandar, saat ia mula pertama merapat di bibir pantai Tammangalle. Dan Kanne Cunang atau mara’dia Pallis-lah yang mula pertama memeluk Islam lalu diikuti oleh Raja Balanipa ke-4; Daetta Tommuane alias Kakanna I Pattang. Pendapat ini kemudian dinilai banyak kekurangannya. Utamanya tidak ditemukannya keturunan Abdurrahmim Kamaluddin di Mandar.
Sedang menurut Lontar Gowa, Islam pertama kali masuk di Mandar di bawah oleh Tuanta Syekh Yusuf ( Tuanta Salamaka). Menurut pendapat ini pada tahun 1608 seluruh daerah Mandar telah memeluk Agama Islam. Namun tidak jelas benar apakah yang di maksud Tuanta Syekh Yusuf ini juga adalah Syekh Abdul Mannan yang membawa siar Islam di Banggae yang pertama kali diamini oleh Tomatindo di Masigi sekitar tahun 1608 atau bukan?. Sampai disini disebutkan pula, bahwa yang pertama memeluk agama Islam di Banggae adalah Sukkilan yang kuburannya dapat ditemukan di Mesjid Raya Majene kini.
Sedang versi lainnya juga menyebutkan, bahwa untuk menapak jejak langkah pertama siar Islam di Mandar juga dapat menilik surat yang dari Mekkah Pada I Muharram 1402 H. yang kalo ditukil, didalamnya menyebutkan tentang, kehadiran seorang Assayyid Al Adiy dan bergelar Guru Ga’de yang berasal dari keturunan Malik Ibrahim. Surat ini diperkuat dengan kuburannya yang hingga kini juga masih dapat dikunjungi di Desa Lambanan. Dan hingga kini masyarakat masih juga ramai mengunjungi kuburan yang dianggap keramat tersebut. Belum lagi, sampai saat ini silsilah keturunan Guru Ga’de yang juga masih berlanjut, seperti dikenalnya nama H. Muhammad Nuh yang tidak lain adalah cucu dari Guru Ga’de yang pada abad ke-18 merupakan orang yang pertama yang memperkenalkan pola pendidikan pesantren di Desa Pambusuang dan Campalagian.
Sementara itu, penyebaran Islam di Mamuju, Sendana, Pamboang dan Tappalang mula pertama diperkenalkan oleh Sayyid Zakaria dan Kapuang Jawa alias Raden Mas Suryo Adilogo yang tidak lain adalah murid dari Sunan Bonang yang datang dari Kalimantan menyebarkan siar Islam, lalu lanjut ke pulau Sulawesi dan meratap pertama kali di Mamuju.
Belum lagi banyaknya pemakaman To Salama’ lainnya di tanah Mandar, yang juga sekaligus dapat membuktikan betapa membuminya Islam di tanah Mandar. Salah satu yang masi ramai dikunjungi oleh banyak orang adalah, di Pulau To Salama’ di Kecamatan Binuang Kabupaten polewali Mandar. Dimana ditempat tersebut dan berada di atas puncak ketinggian dikebumikan Syekh Bil Ma’ruf yang juga diyakini adalah salah seorang menganjur Islam di tanah Mandar. Ditempat itu pula, tepat dipintu masuk makam jelas terbaca monument ordinantie nomor 238 tahun 1931 yang diperkirakan menyebarkan Islam di Mandar sekitar Abad ke-16 M.
Lantas bagaimana dengan Islam di wilayah Pitu Ulunna Salu. Baik dicoba pula dibongkar sedikit memori sejarah peradaban perkembangan Islam di daerah tersebut. Seperti yang ditulis oleh Ibrahim Abbas (1999), yang menyebutkan, bahwa memahami sejarah awal mula Islam dikenal di Pitu Ulunna Salu terjadi sekitar abad ke-17 dan ke-18 yang ditandai dengan kehadiran Tuanta di Bulobulo di daerah tersebut dan membuat Indo Kadanene' atau yang bergelar Todilamung Sallang (dimakamkan dalam keadaan beragama Islam-pen). Yang lalu susul menyusul diikuti oleh raja-raja di persekutuan Pitu Ulunna Salu tersebut, seperti Indo Lembang, Tomakaka' Mambi, Tomakaka' Matangga. Kecuali Tabang, Tabulahan dan Bambang hampir semua kerajaan-kerajaan di persekutuan Pitu Ulunna Salu mengikuti dan memeluk agama Islam.
Sedang Sarman Sahudding (2004) menulis, Islam pertama kali datang dibawa oleh para pedagang dari wilayah pesisiran pantai, seperti Haji Cendrana, Haji Tapalang, Haji Pure dan Daeng Pasore dan itu terjadi sekitar akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Daerah yang pertama didatangi oleh pedagang tadi untuk menyebarkan Islam tersebut adalah Lembang Matangga atau daerah Posi' melalui daerah Mapi dan Tu'bi. Hal lain yang juga dapat dijadikan titik tumpu penelusuran sejarah peradaban Islam di Pitu Ulunna Salu adalah melalui ditemukannya kuburan tua di daerah Matangga yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai kuburan tempat dikebumikannya To Salama' atau sang pembawa Islam pertama kali ke daerah mi. Konon sebelumnya pernah datang dua orang yang tak dikenal sebagai pembawa Islam pertama.
Namun yang satunya kembali, sedang yang satunya lagi tinggal dan lalu meninggal di daerah Lembang Matangga, hingga akhirnya dikebumikan di tempat tersebut. Dari kuburan tempat dikebumikannya itulah kemudian, lalu dianggap keramat oleh peduduk sekitar yang hingga kini diyakini adalah kuburan Wall sang pembawa dan penyebar Islam di wilayah Pitu Ulunna Salu. Sedang daerah kedua tempat penyebaran Islam di wilayah persekutuan ini adalah di daerah Talipukki. Sebagai Bahagian dari Lembang Mambi, di daerah ini juga ditemukan kuburan yang sama, juga diyakini sebagai pekuburan To Salama' yang dipercaya pertama kali membawa Islam ke Daerah Talipukki. Demikian pula halnya dengan daerah Lembang Aralle, dimana dari daerah ini didapatkan pembuktian adanya Daeng. Mappali yang tak lain adalah cucu dari Kada Nene'. Yang lalu dipercaya sebagai orang yang pertama memeluk Islam. Hal itu terbukti dengan gelar yang disandangkan atasnya yakni, TodilamungSallang(yang dikebumikan dalam keadaan muslim-pen). Sedang di Lembang Rentebulahan, juga dikenal seorang nama Tomesokko' Sallang (yang berkopiah muslim-pen) yang tak lain adalah cucu dari salah seorang cucu Indo Lembang di Rantebulan.
F. Penyebaran Islam di Mandar Tidak Terlepas dari Penguruh Kolonial dan Globalisasi.
Masuknya Islam di Mandar tidak dapat dipisahkan dengan masuknya Islam pertama di Sulawesi Selatan. Berdasarkan berita dari Anthony Djohan Effendi Paiva, seorang pedagang Portugis yang berkunjung ke Sulawesi Selatan pada tahun 1543, dapat diketahui bahwa pedagang-pedagang Muslim sudah menginjakkan kakinya di jazirah ini pada akhir abad ke-15. Dalam suratnya kepada Gubernur Portugis di Maluku, Paiva mengatakan antara lain :
“... Saya tiba di siang ketika matahari terbenam, dan raja menyuruh sambut kami di rumah wakilnya tadi, dan mengatakan bahwa besoknya dia akan menjadi Kristen. Lawan saya adalah pendatang Melayu Islam ...dari Semtana (Ujung Tanah), Pao (Pahang) dan Patane (Patani), yang berusaha supaya raja merubah maksudnya, karena sudah lima puluh tahun lebih mereka datang berdagang di situ...”
Berdasarkan surat tersebut, maka terasalah bagi Kristen adanya persaingan dengan Islam dalam menanamkan pengaruhnya. Bagi orang Portugis, kenyataan itu dianggap sebagai akibat kelemahan mereka yang tidak mampu mendatangkan pendeta-pendeta untuk mengajarkan agama Kristen kepada penduduk setempat. Hal ini dinyatakan dalam kepustakaan Portugis seperti yang dikutip oleh Arnold dan C.H. Perlas. Akan tetapi, perbedaan masuknya Islam ke suatu daerah bukan hanya karena kurangnya sumber otentik yang didapat tetapi juga kaburnya dasar konseptual yang dipakai, berupa percampuran antara datang, berkembang dan tampilnya Islam sebagai kekuatan politik. Hingga saat ini sejarawan di Sulawesi Selatan mengakui bahwa masuknya Islam pertama di Sulawesi Selatan ialah pada tahun 1603 M., yang pertama memeluk Islam ialah Raja Luwu di kampung . Patimang. Setelah memeluk Islam (mengucapkan syahadat) namanya menjadi Sulthan Waliyumidrakhudie. Kemudian atas usul Sultan agar Islam lebih jaya, menganjurkan kepada ketiga' datuk pembawa Islam masing-masing Datuk Sulaiman, Datuk Tunggal dan Datuk Bungsu, agar mendatangi Raja Gowa mengajak masuk Islam. Tangga122 September 1605 M. Raja Tallo', I Malaingkaan Daeng Manyonri dengan gelar Sultan Awwalul Islam, telah memeluk Islam kemudian I Manggarai Daeng Manra’bia dengan gelar Sultan Aluddin, Raja Gowa juga telah menjadi Muslim.
Setelah kedua raja tersebut memeluk Islam, maka berduyun-duyunglah rakyatnya memeluk Islam tanpa paksaan dan intimidasi. Berbeda dengan raja Bone pada mulanya hanya rajanya yang bersedia, tapi rakyatnya tidak. Nanti pada tahun 1611 Raja Bone dan rakyatnya telah masuk Islam setelah melihat perkembangan Islam yang pesat.
Masuknya Islam pertama di Mandar sampai saat ini masih terdapat beberapa pendapat, antara lain :
1. Menurut Lontar Balanipa, masuknya Islam pertama dipelopori oleh Abdurrahim Kamaluddin. la mendarat di pantai Tammangalle Balanipa. Yang pertama memeluk Islam ialah Kanne Cunang Maradia Pallis, kemudian Raja Balanipa IV: Daetta Tommuane alias Kakanna I Pattang.
2. Menurut Lontara Gowa, bahwa masuknya Islam di Mandar dibawa oleh Tuanta Syekh Yusuf (Tuanta Salama). Bahkan seluruh daerah Mandar telah memeluk Islam pada tahun 1608.
3. Menurut salah sebuah surat dari Mekah bahwa masuknya Islam di Sulawesi (Mandar) dibawa oleh Assayyid Adiy dan bergelar Guru Ga'de berasal dari Arab keturunan Malik Ibrahim dari Jawa.
G. Akulturasi Budaya Mandar Dengan Agama Islam
l. Bidang Pendidikan.
Setelah Daetta Tommuane memeluk Islam terjadilah perubahan di bidang kehidupan masyarakat seperti bidang pendidikan. Dikumpulkan sejumlah 44 orang mukim pemuda remaja dididik menjadi kader-kader Islam. Oleh Raja Balanipa ditetapkan satu keputusan kerajaan yang berbunyi sebagai berikut :
“Naiya mukim tannaindo allo, tannaimbui iri’ tandipandengngei, tandi pambulle-bullei, tandipa’ jagai, tandipannangi, Madondong duambongi anna lopai lita, maloli dai do timor tarruppu, maloli naun di wara tarruppu;”
Artinya: Adapun mukim itu tak tertimpa panas teriknya matahari, tak terhembus tiupan angin, tak akan dibebani tugas-tugas dan pikulan yang berat, tak akan dijadikan hamba sahaya. Dan apabila negara dalam keadaan panas, ke timur atau ke barat, mereka tak akan pecah (tak boleh diganggu).
2. Pemerintahan.
Struktur pemerintahan telah mengalami pula perubahan, yaitu dengan menetapkan sorang kali (Kadhi) sebagai Mara'dianna Sara'. Diadakanlah pertandingan membaca al-Qur'an, yaitu siapa yang dapat menguasai al-Qur'an dalam tempo satu bulan itulah juara pertama dan itulah yang menjadi Kali Balanipa I. Yang berhasil adalah seorang keturunan bangsawan yang bernama I Tamerus alias Isinyalala. (ini menurut pendapat M. Darwis' Hamzah), dan beberapa pendapat lain lagi dari para tokoh ' budayawan Mandar lainnya.
3. Bidang Kesenian
Jika sebelum datangnya Islam, maka upacara tari-tarian yang dikenal dalam kerajaan berfungsi sebagai penyembahan kepada dewa, dengan datangnya Islam, maka seni tari hanya berfungsi sebagai bagian dari adat saja.
Tapi bagi orang yang telah menamatkan al-Qur'an dikenal adanya upacara diarak keliling kampung dengan menaiki saiyang pattudu' (kuda yang pintar menari) sambil diikuti irama rebana, lalu di kanan kirinya kaum muda remaja memperlihatkan kebolehannya berkalinda'da' (bersyair).
4. Masalah perkawinan
Sampai pada saat ini di dalam perkawinan masih terdapat pengaruh ajaran Islam yang sukar ditumbangkan, sekalipun di sana sini masih terdapat sebahagian cara-cara yang tidak rasional dari pengaruh animisme dan Hindu. Yang menonjol adanya pengaruh Islam ialah adanya khutbah (pinangan) sebelum nikah, mangino (bermain-main dan berkejar-kejaran) sesudah akad nikah. Ini pernah dilakukan Nabi dengan Zainab. Penggunaan real (uang Saudi sekarang) di dalam mahar, dan yang bertanggung jawab sesudah nikah adalah kaum lelaki. Ini sesuai firman Allah, yang artinya laki-laki adalah bertanggung jawab terhadap kaum wanita. Syarat-syarat calon suami adalah tamma' topa mangaji (harus tamat: mengaji).
5. Masalah selamatan
Hingga saat ini selamatan masih dilakukan dengan baik oleh masyarakat Mandar. Pesta atau selamatan yang dibenarkan Islam ada tujuh perkawinan, penyunatan, akikah, pindah rumah, bepergian jauh, setelah kembali dari bepergian dan tasyakkur nikmat. Upacara kenduri dalam kematian, adalah pengarah Hindu yang diislamisasikan oleh para muballigh. Pesta-pesta lain seperti Maulid. Mi'raj. Halal bi Hala'la adalah termasud yang tidak merusak: Islam. Adapun selamatan pendirian rumah dengan menggantungkan air di dalam botol, kelapa, pisang pada tiang rumah bukanlah dari ajaran Islam; perlu diberantas.
6. Masalah pakaian
Pakaian wanita yang terdiri dari bayu pokko atau pasangan (Semacam baju bodo), masih terasa adanya pengaruh Islam. Yaitu bila melihat baju bodo yang sangat tipis dipakai oleh gadis-gadis remaja dari daerah Bugis/Makassar, ternyata di daerah Mandar, gadis-gadisnya belum berani merubah dari ukuran tebal menjadi tipis. Ini perlu dipertahankan, sebab di samping budaya turun temurun yang telah mendara daging, semangat inipun dijiwai oleh agama yang banyak dianut oleh masyarakat yaitu Islam. Demikian seorang pria dianggap kurang berakhlak jika berhadapan orang tua lalu tidak pakai kopiah atau songkok atau sapu tangan. Bahkan orang yang sudah haji tidak mau
H. Kesimpulan
Berdasarkan sekian banyak sumber di atas, maka penulis belum dapat mengambil kesimpulan siapakah sebenarnya yang paling mendekati kebenaran. Akan tetapi jika kita hendak menganalisa, maka pendapat pertama dan inilah yang banyak dikenal selama ini, mempunyai banyak kekurangan dari segi penulisan sejarah. Yaitu pertama nama Kamaluddin penyempurna agama, tidak seperti gelaran Raja Tallo disebut Awwalul Islam, karena dialah yang pertama memeluk Islam, sedang Alauddin dianggap dialah yang pertama meninggikan Islam.
Kelemahan yang lain, mengapa keturunan dari Abdurrahim Kamaluddin selama beratus tahun tidak dikenal dan vakum sampai sekarang? Adapun versi kedua tentang Syekh Yusuf, mungkin yang dimaksud di sini ialah Syekh Abdul Manna yang membawa agama Islam pertama ke kerajaan Banggae (Majene) dan diterima oleh Tomatindo di Masigi sekitar tahun 1608. Nama Mara'dia Banggae pertama memeluk Islam ada kuburnya masih terdapat di Mesjid Raya Majene (sekarang), ialah Sukkilan. Sesudah kerajaan Banggae memeluk Islam ia berkunjung ke Kutai dan dihidangkan babi itu tidak dimakan karena telah memeluk lslam Kutai baru resmi menerima Islam pada tahun 1610.
Adapun versi ketiga yang diperkuat pendapat dari Mekah, yaitu Guru Ga'de (Al-Adiy), kuburnya masih didapati di Lambanan (Kecamatan Tinambung) diziarahi oleh orang sebagai yang dianggap keramat. Keistimewaannya mempuyai silsilah yang lengkap sampai tujuh lapis dan mempunyai keturunan yang berkembang, mempunyai perawakan mirip Arab, cucunya yang kedua bernama H. Muhammad Nuh pada abad ke- 18 yang pertama membuka sistim pesantren di Pambusuang dan Campalagian. Penyebaran agama Islam ke daerah Mamuju, Sendana, Pamboang dan Tappalang ia seorang yang bernama Kapuang Jawa dan Sayyid Zakaria. Konon Kapuang Jawa itu adalah anak buah Sunan Bonang yang datang ke Kalimantan kemudian melanjutkan usaha ke Sulawesi (mendarat di Mamuju). Dan Kapuang Jawa itu menurut pendapat beberapa pengamat sejarah, bernama Raden Mas Surya Adilogo. Pengaruh Islam terhadap perkembangan kebudayaan Mandar sudah tentu ada. Namun hal itu dianggap Pengauh yang hampir sama di setiap daerah yang dimasuki Islam.
I. Penutup
Pengkajian sejarah awal masuknya islam di Tanah Mandar hingga saat ini masih terus bergulir. Adalah sebuah kenisayaan apabila nilai dan spirit ajaran islam digunakan masyarakat Mandar dalam menata kehidupan budaya sehari-hari yang terakumulasi menjadi sebuah peradaban yang adiluhung mustahil tidak bisa ditemukan titik awal dari kebenaran sejarahnya. Meski dalam setiap pengungkapan maknanya dan fakta realitas hanya sepenggal saja, tapi itu sudah merupakan penghormatan tertinggi bagi sejarah sebagai ilmu pengetahuan. Setidak-tidaknya apa yang kami tulis ini adalah mendekati kebenaran dan menjadi sebuah langkah awal dalam menelusuri jejak-jejak sejarah awal masuknya islam di Tanah Mandar.
Setiap perbuatan manusia melahirkan sebuah karya baru yang nantinya bisa membawah kehal-hal yang negatife atau positif, karya yang dihasilkan ini sangat jauh dari kesempurnaan sebuah karya ilmiah. Sumbang saran dari pembaca, teman, sahabat dan yang peduli tentang ini semua kami dengan bijak menerima segala masukan dan saran-saran kritikan konstruktif sehingga karya ini akan menajdi monumental dimasa akan datang.
Ucapan terima kasih yang tidak ternilai harganya penulis persembahkan kepada sumber-sumber fakta, yang bersusah paya melakukan kegiatan mulia sehingga realitas sejarah ini dapat muncul kepermukaan dan dikonsumsi oleh generasi akan datang.₪
makalah kerajaan Sendana
SEJARAH
KERAJAAN SENDANA
OLEH
SMA NEGERI 3 MAJENE
TAHUN PELAJARAN 2011-2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah dan kekuatan yang Allah berikan sehingga saya dapat menyelesaikan makalah SEJARAHyang berjudul “KERAJAAN SENDANA “ ini tepat pada waktunya.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat saya harapkan.
Tidak lupa saya ucapkan terima kasih pada teman – teman yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, serta pada guru yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing kami khususnya guru mata pelajaran SEJARAH
Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi kita semua, khususnya di lingkungan SMA 3 ini sendiri dan bagi pembaca pada umumnya.
Akhir kata saya ucapkan banyak terima kasih.
Wabillahi Taufik Walhidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Majene, 20 NOVEMBER 2011
Penyusun
IRMAYANTI
DAFTAR ISI
1. KATA PENGANTAR........................................................................................................i
2. DAFTAR ISI......................................................................................................................ii
3. BAB I
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
4. BAB II
PEMBAHASAN................................................................................................................2
5. BAB III
PENUTUP..........................................................................................................................5
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Latar belakang penulisan Kerajaan Sendana ini adalah merupakan tugas yang diberikan oleh guru Sejarah, adapun yang pembahasannya nanti akan ditulis secara lengkap di pembahasan. Secara singkat Kerajaan Sendana ini terletak di daerah Mandar penamaan Sendana berasal dari kata Cendana .
B. RUMUSAN MASALAH
Terletak dimana Kerajaan Sendana?
Siapa penemu Kerajaan Sendana?
Siapa pemimpin Kerajaan Sendana?
Seperti apa pemerintahannya?
Seperti apa pelantikan Rjanya?
C. TUJUAN
Agar kita mengetahui Sejarah tertbentuknya Kerajaan Sendana
Agar kita mengetahui siapa pemimpin Raja Sendana
Supaya kita mengetahui seperti apa kepemimpinan Rajanya pada masa itu
Untuk mengetahui bagaimana sistem pelantikannya
BAB II
PEMBAHASAN
KERAJAAN SENDANA
Kerajaan sendana, kerajaan di daerah Mandar. Tergabung dalam persekutuan Pitu Baqbana Binanga dengan status sebagai Ibu (Kerajaan Balanipa sebagai Bapak). Sendana di temukan oleh Daeng Tumana Tomakaka Tabulahang dari pitu ulunna salu. Adik kandung Daeng Tumana bernama Daeng Palulung yang memperistrikan Tomesaraung Bulawang puteri Raja Bone datang bermukim di saqadawang. Daeng Palulung dan tomesaraung bulawan adalah raja dan permaisuri pertama Kerajaan Sendana (pendapat A.M.Mandra).Penamaan sendana berasal dari kata cendana.Tomesaraung Bulawang mempunyai tongkat dari kayu cendana yang dipancangkannya di puncak Buttu “gunung” Suso yang kemudian tumbuh subur. (pendapat Sadaid dan Soenoesi: tongkat To Dibondeq adik To Papo yang secara ajaib ditemukannya di kampung waras yang dililit kain kuning yang kemudian bernama Cakkuriri bergambar seekor kalajengking, dua bilah pedang bersilang dan bertuliskan Laa ilaha illallah MuhammadarrasululLah, dan tongkat dari tangkai pohon cendana itu yang beberapa lama setelah di tancapkan oleh To Dibondeq tumbuh subur). Daeng palulung di tempat itu mendirikan Kerajaan Sendana sekitar abad ke-9 Miladiyah dengan gelar Arayang DI Sendana.Cakkuriri panji kerajan di ambil oleh di Baras Mamuju, dalam pengembaraannya sebelum mengawini Tomesaraung bulawang. Saqadawang, beratus tahun lamanya menjadi Ibu kota Kerajaan Sendana,mulai dari Raja Sendana yang pertama yaitu Daeng Palulung sampai yang ketiga yaitu idaeng Marrituq yang putra indara (indara, putri Daeng palulung). Pada masa pemerintahan Puatta Dipodang,Raja sendana yang ke-4, ibu kota kerajaan di pindahkan ke pantai. Ditempatkan di podang. Beratus tahun lamanya Podang menjadi ibu kota Kerajaan. Pada masa pemerintahan Mappagiling Raja Sendana yang 36, dalam tahun 1917 Miladiyah, Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Podang ke Somba. Berpuluh tahun masa antara Daeng Marrituq-Puatta di Podang, Sendana dipimpin oleh yang digelar Tonipatongang Loa (orang yang di tuakan oleh masyarakat/lembaga adat sendana),sambil menunggu kembalinya
Daeng Marrituq yang pergi ke daerah utara tanpa di ketahui kapan kembalinya sampai diterimanya berita yang pasti bahwa beliau sudah wafat. Batas-batas Kerajaan Sendana yaitu sebelah utara berbatasan dengan Malunda (Daerah Mandar Pamboang, kecuali Ulu Mandaq, karena ulu Mandaq lebih dulu masuk Kerajaan Sendana); sebelah timur berbatasan dengan daerah Lembang Mapi; sebelah selatan berbatasan dengan Kerajaan Pamboang; dan sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar. Struktur dan sistim Pemerintahannya: (1) Periode Tradisional. Pada waktu cikal bakal Kerajaan di Saqadawang, Daeng Tumana Tomakaka Tabulahang sudah m,erintis permukiman dan organisasi kekuasaan yang dipimpinnya di kenal dengan istilah Bawa Tau (pemimpin kaum). Dari bawa tau menjadi pappuangan. Pada masa Daeng Palulung-Tomesaraung Bulawang menjadi”Puatta” sampai istana raja berdiri di Saqadawang. Mulai saat itu di kenal istilah Tomemmara-maraqdia yang akhirnya menjadi Maraqdia dan meningkat lagi menjadi Arayang. Istilah dan fungsi Pappuangang dan Puatta masih tetap ada sebagai hadat yang mempunyai tugas pokok badan “legislatif” sekalian mempunyai daerah/penduduk asli.
Andirinna dari Rantebulahang datang ke Tallambalao menjadi pemimpin/penguasa di daerah itu dengan gelar Tomakaka Tallambalao. Dalam proses selanjutnya gelar Tomakaka Tallambalao berubah menjadi Maraqdia Tallambalao.
Suatu waktu berubah menjadi Maraqdia Tammala Raqdaq yang akhirnya menjadi maraqdia Tammeroqdoq. Semula, daerah Tammeroqdoq di utara berbatasan dengan Kerajaan Onang, dan daerah Podang di selatan. Pada masa berikutnya datang Inuji alias Tokearaq bergelar tosiwawa adaq bermukim di Limboro Rambu-Rambu, hingga Limboro Rambu-Rambu
menjadi Sambolangiq(panglima perang) di Kerajaan Sendana. Dari gabungan ketiga sumber manusia
yang serumpun (dari pitu ulunna salu: Tabulahang,Rantebulahang,dan Aralle) di Sendana, lahirlah pelaksanaan pembentukan Struktur kekuasaan adaq ‘Hadat’ di Sendana adalah sebagai berikut. Puttaqdaq dengan tallumbalao di tetapkan sebagai daerah Pattannang adaq,
menentukan calon pemangku Adat diantara semua lembaga adat yang disebut Sappulo sokkoq adaq’sepuluh jabatan hadat’ di dalam wilayah kerajaan sendana. Pemilihan calon pemangku hadat mulai dari Paqbicara Tangnga sampai mosso,Puttaqdaq yang menjadi rarung’jarum’ (Ketua) dan Tallambalao menjadi Bannang ‘benang’ (anggota), dan mulai dari tammeroqdoq sampai Tubo, Tallambalao menjadi Rarung (Ketua) dan Puttaqdaq menjadi Bannang (anggota). Setelah pemangku Adat yang sepuluh itu lengkap menduduki jabatan masing-masing, musyawarah adat pun di lakukan memilih Maraqdia’Raja’ sendana. (Musyawarah Hadat oleh para pemangku hadat yang 10 itu juga yang memberhentikan Maraqdia. Sementara maraqdia tidak berwenang memecat/memberhentikan pemangku hadat). Proses pemilihan dan pengangkatan/pelantikan Raja Sendana sebagai berikut. Di bawah panduan Koordinator Hadat yaitu Paqbicara kaiyang dan sesepuh Hadat yakni Puttaqdaq dan Tallambalao(sekarang Tammeroqdoq) para anggota lembaga adat yang sepuluh bermusyawarah dengan acara maqbalaqbaq calon raja. Setelah tersedia calon raja resmi (paling banyak 7 dan paling sedikit 3 orang), para Anggota lembaga adat yang 10 bermusyawarah lagi memilih seorang dari antara para calon raja menjadi raja. Setelah ada 1 orang terpilih menjadi raja sendana baru di buat acara khusus mappesokkoqi maraqdia yang di lakukan pappuangang di Puttaqdaq(sebelum adanya jabatan Puatta di Podang/paqbicara kaiyang, dan oleh paqbicara kaiyang setelah itaqdaq menyuruh saudaranya Puatta di saqadawang turun ke podang menjadi paqbicara kaiyang.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kerajaan Sendana terletak di daerah Mandar tergabung dalam persekutuan pitu baqbana binanga dengan status sebagai ibu Kerajaan dan Kerajaan Balanipa sebagai bapak. Penamaan Sendana berasal dari kata Cendana. Raja pertama yaitu Daeng Palulung sampai yang ketiga yaitu Marrituq yang putra Indara. Urut-urutan mekanisme pembentukan struktur kekuasaan adaq di Sendana adalah sebagai berikut: Puttadaaq dengan Tallambalao ditetapkan sebagai DAERAH pattannang adaq, menentukan calon pemangku adat diantara semua lembaga adat disebut sappulo sokkoq adat. Adapun kalimat-kalimat pelantikan Raja Sendana ialah sebagi berikut.
Upakaiyangoqo
Pakarayaq
Buttubuttummu
Lapparlapparmu
Leqboqleqboqmu
tautaummu
PETA KONSEP KERAJAAN SENDANA
Keadaan social Keadaan budaya
Keadaan Ekonomi Keadaan Politik
Senin, 25 Juli 2011
Sabtu, 04 Juni 2011
KENANGLAH JASAKU WAHAI GENERASI MANDAR
b. Kenanglah daku
Apalah arti sebuah nama ,jika nama itu sendiri akan terlupakan dan apa pula arti bagi kita selaku orang Balanipa khususnya dan orang Mandar pada umumnya yang hidup dan berkembang dalam kebudayaan dan pembangunan sejarah Nasional yang tentunya sangatlah tidak wajar jika kita tidak mengetahui secara pasti dan mendasar tentang sejarah daerah dan sejarah perjalanan para pahlawan yang berjuang membela dan mempertahankan serta rela berkorban demi membela harkat dan martabat daerah dimana mereka dilahirkan .
Dan dengan demikian maka selaku orang Mandar haruslah mampu menjadikan semangat dan jiwa kepatriotan didalam membela Negara , bangsa dan tanah air yang telah diwariskan oleh para leluhur pendahulu sebagai cerminan dalam upaya melakukan introspeksi diri , apakah kita yang hidup di era sekarang ini juga mampu mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada bangsa, negara dan tanah air , juga kepada kemanusiaan sebagai mana yang telah dicontohkan oleh para pejuang yang berasal dari Mandar , yang dngan rela tulus dan ikhlas mengorbankan segala ksenangan pribadinya , walaupun ssungguhnya pengorbanan mreka tidak pernah tercatat atau tertulis dalam lembaran catatan atau dokumen negara ,mereka hanya dikenal oleh sahabatnya , oleh teman seperjuangan atau oleh keluarganya sendiri atau hanya sebagian orang yang berada disekelilingnya , dan kepada mereka yang tahu persis serta mengenal mereka akan tetapi tak mampu untuk sehingga para pejuang tersebut tidak pernah mendapatkan pengakuan , apalagi yang namanya “Sertipikat” atau semacamnya selaku pejuang dan pahlawan revolusi serta pahlawan Nasional , padahal pengorbanan mereka kemungkinan jauh lebih besar ketimbang dari pahlawan lainnya yang diantaranya telah mendapat gelar penghormatan sebagai pahlawan Nasional atau pejuang revolusi atau apa saja namanya , padahal para pahlawan yang tersebut diatas yang tidak mendapatkan apa-apa , atau hanya tinggal nama ataukah telah gugur secara sia-sia , trlupakan dan tidak punya hak menyandang predikat selaku pahlawan yang gugur sebagai kesuma bangsa , tidur berkepanjangan sebagai tidur yang indah dialam sana berkat jasa yang pernah dilakukannya tampa menikmati keindahan dari sanjungan yang ditatanya lewat pengorbanan darah dan air mata .
Pahlawan-pahlawan tersebut yang masih sangat segar dan hangat dalam ingatan kita atau masih sangat jelas nampak terbayang di mata rakyat akan sepak terjang mereka dalam membela Negara, bangsa dan tanah air yang diantaranya terdapat beberapa nama yang sempat terekam yang kemudian diabadikan oleh para keluarganya yang diantaranya adalah sebagai berikut yaitu :
1. Tomakaka Loppong pada zaman tomakaka dan berganti menjadi Mara’dia Loppong pada zaman Amara’diangan di Balanipa yang juga bergelar Ikadzake Lette yang daerah kekuasaannya pada ahirnya bernama Pappuangan Renggeang ,yang pada zaman pemerintahan Todilaling berhasil membunuh seorang pemberani yang datang di Mandar bergelar Passitobo dari Cikoang Takalar sehingga Ikadzake Lette’ dianugrahi gelar sebagai Tomappatumballe’ Lita’ di Mandar ( orang yang mempertahankan tanah tumpah dara di Mandar )
2. Hampir semua raja-raja di Balanipa sejak dahulu sebelum pasca proklamasi menentang kedatangan Pemerintah Belanda yang pimpinan dan perlawanannya selalu dimulai dari kerajaan Balanipa seperti yang dilakukan oleh Todziboseang Arayang Balanipa yang ke VI yang menjadi pimpinan pertempuran diseputaran laut Ajatapparang melawan pasukan Bone yang dibantu oleh pasukan Belanda ,untuk selanjutnya memimpin pertempuran di Kaeli yang mengikabatkan beliau gugur disana lalu dipulangkan ke Balanipa dengan kendaran sampan tampa layar dan dikayu oleh dayung , sehingga beliau bergelar Todziboseang
3. Pasukan Gabungan Ba’bana Binanga dibawah pimpinan Arayang Balanipa k X Idaeng Mallari yang membantu kerajaan Gowa dalam pertempuran melawan pasukan Belanda yang dibantu oleh kerajaan Bone yang mengakibatkan gugurnya Idaeng Mallari bersama sebagian besar pasukannya sehingga beliau kemudian bergelar Todzipesso di Galeso (orang yang gugur diserbu musuh di Galesong)
4. Puatta Ilambo bergelar Tomatindo Dilanggana Arayang Balanipa ke XI , XIII dan ke XVII yang berjuang mempertahankan harkat dan martabat serta membela tanah air , kemudian dengan jiwa besar ,tulus serta ikhlas turun dari tahta kerajaan demi memberikan kesempatan kepada yang sangat berjasa dalam mengusir musuh yang akan menodai nama besar Mandar
5. Pasukan Gabungan Ba’bana Binanga dibawah pimpinan Imaga Daeng Rioso yang dibantu oleh Mara’dia Banggae berhasil mengalahkan dan mengusir pasukan kerajaan Bone yang berjumlah kurang lebih 20.000 pasukan dan dibantu oleh pasukan Belanda yang ahirnya melahirkan sebuah perjanjian untuk tidak lagi saling bermusuhan yang disebut dengan Perjanjian Lanrisang
6. Ijuara Mara’dia Banggae dan Ilatta Mara’dia Pamboang yang pada sekitar tahun 1892 ditangkap Belanda lalu diasingkan ke Ujung pandang (Makassar) dan dilepaskan pada tahun 1905 ,kedua pahlawan ini hanya mendapat jasa dengan sebutan Topole di Ujung pandang ( orang yang datang dari Ujung Pandang )
7. Kaco Puang Ammana Pattolawali adik kandung dari Icalo Ammana Wewang Mara’dia Matoa Balanipa yang dalam insiden kontak senjata yang terjadi diberbagai tempat dalam kawasan Mandar yang mengakibatkan gugurnya para pahlawan pejuang kemerdekaan termasuk Kaco Puang Ammana Pattolawali
8. Ibaso Boroa alias Tokape yang menentang Belanda sebagai yang dipertuan di Mandar yang juga ahirya ditangkap dan dibuang ke Pacitan Jawa Timur dan wafat disana dengan meninggalkan tiga orang putra di Mandar yaitu: Pammase bergelar Pallabuang ,Tammanganro bergelar Passalunna dan Simanangngi bergelar Pakkarama yang juga ketiganya populer dengan gelar Jakka Talluna Balanipa (Satria tiga perkasa dari Balanipa) dan dalam pengasingannya Tokape yang di Pacitan digelar Kapei juga meninggalkan seorang istri, seorang putra dan seorang putri yaitu Andi Ali Muhammad dan Andi Suriyatun serta seorang cucu dan beberapa cicit .
9. Kegagahan Icalo Ammana Wewang yang memporak-porandakan Pasukan Belanda ,yang ahirnya beliau tertangkap oleh taktik tipu muslihat Belanda dan beliau dibuang ke Pulau Belitung pada tahu 1906 lalu kembali ke Mandar pada tahu 1943 dan kembali memporak porandakan pasukan Belanda hingga beliau gugur dan dimakamkan di Limboro
10. Ilalo Makasau yang juga bergelar Puang Tobarani yang sangat disegani kawan dan ditakuti oleh lawan , yang dengan taruhan nyawa masuk sorang diri kedalam sarang musuh demi menyelamatkan putri raja yang kemudian berhasil membawanya pulang dengan selamat
11. Peristiwa tidak tumbangnya bendera merah putih yang berkibar didepan Istana Kerajaan Balanipa oleh Pasukan Wasterling Belanda berkat kegagahan sang Mastero kesatria sejati Ibu Agung H.A.Depu yang memilih mati bersama pejuang lainnya ketika itu jika sang merah putih harus turun dari tiangnya
12. Mara’dia Kamande yang juga gugur dalam sebuah pertempuran bersama anak buahnya hanya demi mempertahankan harkat dan martabat untuk tidak mau diperbudak oleh bangsa lain
13. Para pejuang kemerdekaan yang terdiri dari berbagai wilayah di Mandar seperti Balanipa Banggae ,Pamboang dan Sendana bersama rakyat dari Tinambung dan sekitarnya yang tak berdosa dibantai secara bersamaan dalam sebuah peristiwa yang disebut
Apalah arti sebuah nama ,jika nama itu sendiri akan terlupakan dan apa pula arti bagi kita selaku orang Balanipa khususnya dan orang Mandar pada umumnya yang hidup dan berkembang dalam kebudayaan dan pembangunan sejarah Nasional yang tentunya sangatlah tidak wajar jika kita tidak mengetahui secara pasti dan mendasar tentang sejarah daerah dan sejarah perjalanan para pahlawan yang berjuang membela dan mempertahankan serta rela berkorban demi membela harkat dan martabat daerah dimana mereka dilahirkan .
Dan dengan demikian maka selaku orang Mandar haruslah mampu menjadikan semangat dan jiwa kepatriotan didalam membela Negara , bangsa dan tanah air yang telah diwariskan oleh para leluhur pendahulu sebagai cerminan dalam upaya melakukan introspeksi diri , apakah kita yang hidup di era sekarang ini juga mampu mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada bangsa, negara dan tanah air , juga kepada kemanusiaan sebagai mana yang telah dicontohkan oleh para pejuang yang berasal dari Mandar , yang dngan rela tulus dan ikhlas mengorbankan segala ksenangan pribadinya , walaupun ssungguhnya pengorbanan mreka tidak pernah tercatat atau tertulis dalam lembaran catatan atau dokumen negara ,mereka hanya dikenal oleh sahabatnya , oleh teman seperjuangan atau oleh keluarganya sendiri atau hanya sebagian orang yang berada disekelilingnya , dan kepada mereka yang tahu persis serta mengenal mereka akan tetapi tak mampu untuk sehingga para pejuang tersebut tidak pernah mendapatkan pengakuan , apalagi yang namanya “Sertipikat” atau semacamnya selaku pejuang dan pahlawan revolusi serta pahlawan Nasional , padahal pengorbanan mereka kemungkinan jauh lebih besar ketimbang dari pahlawan lainnya yang diantaranya telah mendapat gelar penghormatan sebagai pahlawan Nasional atau pejuang revolusi atau apa saja namanya , padahal para pahlawan yang tersebut diatas yang tidak mendapatkan apa-apa , atau hanya tinggal nama ataukah telah gugur secara sia-sia , trlupakan dan tidak punya hak menyandang predikat selaku pahlawan yang gugur sebagai kesuma bangsa , tidur berkepanjangan sebagai tidur yang indah dialam sana berkat jasa yang pernah dilakukannya tampa menikmati keindahan dari sanjungan yang ditatanya lewat pengorbanan darah dan air mata .
Pahlawan-pahlawan tersebut yang masih sangat segar dan hangat dalam ingatan kita atau masih sangat jelas nampak terbayang di mata rakyat akan sepak terjang mereka dalam membela Negara, bangsa dan tanah air yang diantaranya terdapat beberapa nama yang sempat terekam yang kemudian diabadikan oleh para keluarganya yang diantaranya adalah sebagai berikut yaitu :
1. Tomakaka Loppong pada zaman tomakaka dan berganti menjadi Mara’dia Loppong pada zaman Amara’diangan di Balanipa yang juga bergelar Ikadzake Lette yang daerah kekuasaannya pada ahirnya bernama Pappuangan Renggeang ,yang pada zaman pemerintahan Todilaling berhasil membunuh seorang pemberani yang datang di Mandar bergelar Passitobo dari Cikoang Takalar sehingga Ikadzake Lette’ dianugrahi gelar sebagai Tomappatumballe’ Lita’ di Mandar ( orang yang mempertahankan tanah tumpah dara di Mandar )
2. Hampir semua raja-raja di Balanipa sejak dahulu sebelum pasca proklamasi menentang kedatangan Pemerintah Belanda yang pimpinan dan perlawanannya selalu dimulai dari kerajaan Balanipa seperti yang dilakukan oleh Todziboseang Arayang Balanipa yang ke VI yang menjadi pimpinan pertempuran diseputaran laut Ajatapparang melawan pasukan Bone yang dibantu oleh pasukan Belanda ,untuk selanjutnya memimpin pertempuran di Kaeli yang mengikabatkan beliau gugur disana lalu dipulangkan ke Balanipa dengan kendaran sampan tampa layar dan dikayu oleh dayung , sehingga beliau bergelar Todziboseang
3. Pasukan Gabungan Ba’bana Binanga dibawah pimpinan Arayang Balanipa k X Idaeng Mallari yang membantu kerajaan Gowa dalam pertempuran melawan pasukan Belanda yang dibantu oleh kerajaan Bone yang mengakibatkan gugurnya Idaeng Mallari bersama sebagian besar pasukannya sehingga beliau kemudian bergelar Todzipesso di Galeso (orang yang gugur diserbu musuh di Galesong)
4. Puatta Ilambo bergelar Tomatindo Dilanggana Arayang Balanipa ke XI , XIII dan ke XVII yang berjuang mempertahankan harkat dan martabat serta membela tanah air , kemudian dengan jiwa besar ,tulus serta ikhlas turun dari tahta kerajaan demi memberikan kesempatan kepada yang sangat berjasa dalam mengusir musuh yang akan menodai nama besar Mandar
5. Pasukan Gabungan Ba’bana Binanga dibawah pimpinan Imaga Daeng Rioso yang dibantu oleh Mara’dia Banggae berhasil mengalahkan dan mengusir pasukan kerajaan Bone yang berjumlah kurang lebih 20.000 pasukan dan dibantu oleh pasukan Belanda yang ahirnya melahirkan sebuah perjanjian untuk tidak lagi saling bermusuhan yang disebut dengan Perjanjian Lanrisang
6. Ijuara Mara’dia Banggae dan Ilatta Mara’dia Pamboang yang pada sekitar tahun 1892 ditangkap Belanda lalu diasingkan ke Ujung pandang (Makassar) dan dilepaskan pada tahun 1905 ,kedua pahlawan ini hanya mendapat jasa dengan sebutan Topole di Ujung pandang ( orang yang datang dari Ujung Pandang )
7. Kaco Puang Ammana Pattolawali adik kandung dari Icalo Ammana Wewang Mara’dia Matoa Balanipa yang dalam insiden kontak senjata yang terjadi diberbagai tempat dalam kawasan Mandar yang mengakibatkan gugurnya para pahlawan pejuang kemerdekaan termasuk Kaco Puang Ammana Pattolawali
8. Ibaso Boroa alias Tokape yang menentang Belanda sebagai yang dipertuan di Mandar yang juga ahirya ditangkap dan dibuang ke Pacitan Jawa Timur dan wafat disana dengan meninggalkan tiga orang putra di Mandar yaitu: Pammase bergelar Pallabuang ,Tammanganro bergelar Passalunna dan Simanangngi bergelar Pakkarama yang juga ketiganya populer dengan gelar Jakka Talluna Balanipa (Satria tiga perkasa dari Balanipa) dan dalam pengasingannya Tokape yang di Pacitan digelar Kapei juga meninggalkan seorang istri, seorang putra dan seorang putri yaitu Andi Ali Muhammad dan Andi Suriyatun serta seorang cucu dan beberapa cicit .
9. Kegagahan Icalo Ammana Wewang yang memporak-porandakan Pasukan Belanda ,yang ahirnya beliau tertangkap oleh taktik tipu muslihat Belanda dan beliau dibuang ke Pulau Belitung pada tahu 1906 lalu kembali ke Mandar pada tahu 1943 dan kembali memporak porandakan pasukan Belanda hingga beliau gugur dan dimakamkan di Limboro
10. Ilalo Makasau yang juga bergelar Puang Tobarani yang sangat disegani kawan dan ditakuti oleh lawan , yang dengan taruhan nyawa masuk sorang diri kedalam sarang musuh demi menyelamatkan putri raja yang kemudian berhasil membawanya pulang dengan selamat
11. Peristiwa tidak tumbangnya bendera merah putih yang berkibar didepan Istana Kerajaan Balanipa oleh Pasukan Wasterling Belanda berkat kegagahan sang Mastero kesatria sejati Ibu Agung H.A.Depu yang memilih mati bersama pejuang lainnya ketika itu jika sang merah putih harus turun dari tiangnya
12. Mara’dia Kamande yang juga gugur dalam sebuah pertempuran bersama anak buahnya hanya demi mempertahankan harkat dan martabat untuk tidak mau diperbudak oleh bangsa lain
13. Para pejuang kemerdekaan yang terdiri dari berbagai wilayah di Mandar seperti Balanipa Banggae ,Pamboang dan Sendana bersama rakyat dari Tinambung dan sekitarnya yang tak berdosa dibantai secara bersamaan dalam sebuah peristiwa yang disebut
Sabtu, 30 April 2011
METODE BERTANYA
METODE BERTANYA
Bertanya dalam proses pembelajaran memegang peranan yang penting. Pertanyaan merupakan salah satu rangsangan berfikir yang baik untuk membelajarkan siswa. Ahli pendidikan banyak yang mengakui pentingnya bertanya dalam pembelajaran. Di katakan bahwa, pembelajaran dengan satu gambar, setara dengan seribu kata-kata, dan nilai satu pertanyaan setara dengan seribu gambar.
Disamping berguna untuk merangsang berfikir anak, pertanyaan juga berguna untuk menilai efektivitas pembelajaran dan efektivitas kemajuan belajar anak. Melalui bertanya, guru dapat melihat apakah pembelajaran yang dilakukannya sudah efektif atau belum. Benar tidaknya jawaban anak atas pertanyaan yang disampaikan guru, dapat digunakan untuk menilai keefektifan pembelajaran. Demikian pula, jawaban anak atas pertanyaan guru itu pula, dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan indek kemajuan belajar anak.
Ornstein (1990:275) menyatakan, pembelajaran yang baik ditandai oleh penggunaan bertanya yang baik, khususnya pembelajaran untuk kelompok anak yang besar jumlahnya. Bertanya yang baik dapat merangsang keingintahuan anak, menstimulasi imajinasi anak, dan memotivasi anak untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Pertanyaan dapat menantang anak untuk berfikir, membantu anak untuk mengklarifikasi konsep dan problem yang berhubungan dengan pelajaran.
A. Fungsi Pertanyaan
Pertanyaan memiliki banyak fungsi. Di samping sebagaimana yang diuraikan dalam pendahuluan bab ini, Moedjiono, dkk (1996) fungsi pertanyaan berikut ini.
1. Untuk menguji prestasi belajar siswa.
2. Untuk membantu siswa mengaitkan pengalaman-pengalamannya yang tepat dengan
pelajarannya.
3. Untuk menstimulasi minat siswa. Membangkitkan rasa ingin tahu siswa dan minat
intelektual.
4. Untuk mendorong berpikir karena pertanyaan yang baik membantu siswa untuk
menemukan jawaban yang baik pula.
5. Untuk mengembangkan kemampuan dan kebiasaan menilai.
6. Untuk menjamin pengorganisasian dan pemahaman meteri secara tepat.
7. Untuk mengarahkan perhatian siswa pada unsur-unsur penting dalam pelajaran.
B. Tipe-tipe Pertanyaan
Berdasarkan tingkat keterlibatan pikir anak, tipe pertanyaan dapat dibedakan menjadi (1) tipe pertanyaan tingkat rendah, dan (2) Tipe pertanyaan tingkat tinggi. Berdasarkan klasifikasi kognitif, tipe pertanyaan dibedakan menjadi: (1) pertanyaan pengetahuan, (2) pertanyaan pemahaman, (3) pertanyaan aplikasi, (4) pertanyaan analisis, (5) pertanyaan sintesis, dan (6) pertanyaan evaluasi. Berdasarkan tipe jawaban yang dikehendaki, tipe pertanyaan dibedakan menjadi: (1) pertanyaan konvergen, dan (2) pertanyaan divergen.
1. Tipe Pertanyaan Berdasarkan Tingkat pikir Anak
a. Pertanyaan tingkat rendah. Pertanyaan tingkat rendah, menekankan daya ingat
anak terhadap informasi yang diperoleh. Misalnya kapan Indonesia
diproklamirkan? Pertanyaan terpokus pada fakta, bukan pada pemahaman apalagi
keterampilan pemecahan masalah. Pertanyaan tipe ini oleh Guilford disebut
pertanyaan informasi, menurut Jerome Bruner disebut pertanyaan operasional
kongkrit, sedang Arthur Jensen menyebutnya pertanyaan berfikir tingkat
pertama.
b. Pertanyaan tingkat tinggi. Pertanyaan tingkat tinggi menuntut jawaban dengan
tingkat berpikir yang kompleks dan abstrak. Pertanyaan tingkat tinggi,
digunakan untuk menilai kemampuan berfikir anak yang bersifat komplek dan
abstrak. Tipe pertanyaa ini menuntut anak untuk dapat berpikir analitis,
sintesis, maupun berpikir evaluatif, dan keterampilan pemecahan masalah.
2. Tipe Pertanyaan Berdasarkan Taksonomi Kognitif
a. Pertanyaan Pengetahuan
Pertanyaan pengetahuan bertujuan untuk melacak daya ingat anak terhadap
informasi yang pernah diterima. Informasi dimaksud dapat berupa fakta,
konsep, dalil, rumus, metode dan lain-lain. Informasi (pengetahuan) dapat
bersumber dari bahan teks maupun dari guru atau nara sumber yang lain. Contoh
tipe pertanyaan pengetahuan adalah:
1. Siapa nama presiden Indonesia saat ini?
2. Sebutkan rumus empat persegi panjang?
3. Sebutkan kembali faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya gejolak
moneter, menurut teks yang anda baca?
b. Pertanyaan Pemahaman
Pertanyaan pemahaman menuntut anak untuk mengorganisasikan informasi-
informasi yang telah di terimanya dengan kata-kata sendiri, atau
menginterprestasikan/membawa informasi yang di lukiskan melalui grafik atau
kurva dengan jalan membandingkan/membeda-bedakan.
1. Jelaskan dengan kata-katamu sendiri apakah manfaat pariwisata?
2. Bandingkan antara nyamuk Culex dengan Anopheles!
3. Informasi apa yang kita peroleh dari kurva semacam ini?
c. Pertanyaan Penerapan (application question)
Pertanyaan yang menuntut siswa untuk memberikan jawaban tunggal dengan cara
menerapkan pengetahuan, informasi, aturan-aturan, kriteria, dan lain-lain yang
pernah di terima.
1. Berdasarkan batasan yang telah di uraikan tadi, maka persamaan mana yang
memenuhi syarat?
2. Berdasarkan kriteria yang ada maka organisme mana yang termasuk protosoa?
d. Pertanyaan Analisis (analysis question)
Pertanyaan yang menuntut siswa untuk menemukan jawaban dengan cara:
mengidentifikasi motif masalah yang ditampilkan; mencari bukti-bukti atau
kejadian-kejadian yang menuntut suatu kesimpulan atau generalisasi; danmenarik
kesimpulan berdasarkan informasi yang ada atau membuat generalisasi berdasarkan
informasi yang ada.
1. Identifikasi motif
Contoh: Mengapa paruh burung gagak dan burung kutilang tidak sama bentuknya ?
2. Menganalisa kesimpulan/generalisasi. Contoh: Kenakalan remaja di kota-kota
besar meningkat, dapatkah Saudara menunjukkan bukti-buktinya?
3. Menarik kesimpulan berdasarkan infomasi yang ada.
Contoh: Setelah kita mempelajari perang Diponegoro, Paderi dan Trunojoyo,
maka kesimpulan apa yang dapat kita tarik tentang latar belakang, motif serta
sebab-sebab terjadinya peperangan?
e. Pertanyaan Sintesis (synthesis question)
Ciri pertanyaan ini ialah jawabannya yang benar tidak tunggal melainkan lebih
dari satu dan menghendaki siswa untuk mengembangkan potensi serta daya
kreasinya. Pertanyan sintesa menuntut siswa untuk membuat ramal an/predikasi.
1. Membuat ramalan. Contoh: Apa yang terjadi bila tanaman di siram dengan
larutan asam cuka?
2. Memecahkan masalah berdasarkan imajinasi anak . Contoh: Bayangkan anda
seolah-olah di tengah-tengah gerombolan serigala yang sedang kelaparan,
reaksi apakah gerangan yang anda tampilkan untuk mengatasinya?
3. Mencari komunikasi. Contoh: Susunlah suatu karangan pendek yang menggambarkan
nilai serta perasaan anda!
f. Pertanyaan evaluasi (evaluation question)
Pertanyaan semacam ini menghendaki siswa untuk menjawabnya dengan cara
memberikan penilaian atau pendapatnya terhadap suatu issue yang di tampilkan.
1. Menurut pendapat anda mana yang lebih tepat dan murah dalam pemerataan
kesempatan belajar, SD Inpres atau Sekolah Terbuka?
2. Tepatkah kebijakan melikuidasi sejumlah Bank swasta nasional sebagai langkah
untuk menaikkan apresiasi Rupiah terhadap nilai Dolar Amerika? berikan alasan!
Tipe Pertanyaan menurut luas sempitnya.
a. Pertanyaan sempit (narrow question)
Pertanyaan ini membutuh kan jawaban yang tertutup dan biasanya kunci jawabanya telah bersedia. Bentuk pertanyaan ini ada dua yaitu
1. Pertanyaan sempit
Tipe pertanyaan sempit memiliki jawaban yang tertutup. Biasanya sudah tersedia kunci jawabannya. Pertanyaan sempit informasi langsung. Pertanyaan semacam ini menuntut siswa untuk menghafal atau mengingat informasi yang ada. Contoh: Berapa derajad celcius temperatur tubuh manusia yang sehat?
a. Pertanyaan sempit memusat.
Pertanyaan ini menuntut siswa ini agar mengembangkan ide atau jawabannya melalui
petunjuk tertentu. Contoh: Dengan metode apa agar konsep gotong royong mudah di
mengerti oleh siswa?
b. Pertanyaan luas
Pertanyaan tipe ini menghendaki lebih dari satu jawaban. Dengan perkataan lain,
pertanyaan tipe luas, memiliki jawaban yang masih terbuka.
2. Pertanyaan luas terbuka
Pertanyaan tipe ini mendorong anak untuk menemukan jawaban secara terbuka sesuai dengan gaya masing-masing. Contoh: Bagaimana cara menanggulangi kenakalan remaja di kota kecil?
a. Pertanyaan luas menilai
Pertanyaan tipe ini menuntut anak untuk memberikan penilaiannya terhadap suatu
pengetahuan tertentu. Jawaban untuk pertanyaan ini meminta anak untuk membuat
pendapat, atau menentukan sikap tertentu dengan alasan yang rasional. Contoh:
Bagaimana pendapatmu atas likuidasi bank oleh pemerintah dalam upaya mengatasi
gejolak moneter yang terjadi saat ini?
Tipe Pertanyaan berdasarkan tipe jawaban yang diinginkan
1. Pertanyaan konvergen.
Pertanyaan tipe konvergen serupa dengan pertanyaan sempit, dimana tipe pertanyaan ini memiliki hanya satu jawaban yang benar. Karena itu tipe pertanyaan ini sering dianggap sama dengan tipe pertanyaan tingkat rendah. Tipe pertanyaan konvergen dapat berkaitan dengan logika atau data yang kompleks, idea yang abstrak, analogis dan multi hubungan.
Hasil penelitian menunjukkan tipe pertanyaan konvergen dapat digunakan ketika siswa hendak memecahkan kesulitan dalam latihan soal Matematika atau IPA utamanya analisis persamaan dan problem istilah. Kata tanya dasar untuk pertanyaan tipe konvergen dimulai dengan kata : apa, siapa, kapan atau dimana.
2. Pertanyaan divergen
Pertanyaan divergen adalah pertanyaan yang bersifat terbuka dan memiliki banyak jawaban yang berbeda-beda. Pertanyaan ini menantang kreatifitas berfikir anak dengan terlebih dahulu guru menyediakan contoh dan bukti-bukti. Pertanyaan tipe divergen berhubungan dengan proses berfikir tingkat tinggi yang menentang anak untuk berfikir kreatif dan belajar proses penemuan. Kata tanya dasar untuk mengawali pertanyaan tipe divergen biasanya digunakan kata bagaimana, mengapa. Contoh : Mengapa biaya hidup di Jakarta lebih mahal dibanding di Malang?
3. Pedoman Menyusun Pertanyaan
Moedjiono, dkk (1996) memberikan rambu-rambu untuk menyusun pertanyaan berikut ini.
1. Pertanyaan hendaknya dinyatakan secara ringkas. Pertanyaan hendaknya sedemikian
pendek sehingga siswa dapat segera menangkap makna pertanyaan secara keseluruhan
sementara itu juga merumuskan jawaban.
2. Pertanyaan hendaknya tidak mempunyai makna ganda (ambigius). Pemilihan kata dan
penyusunan kalimat yang baik dan benar sangat penting untuk menjamin bahwa
ide-ide yang terkandung dalam pertanyaan itu telah disampaikan secara tepat.
3. Pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan umur dan pertumbuhan bahasa siswa.
Kesalahan yang sering dilakukan guru adalah menilai kemampuan siswa terlalu
tinggi atau terlalu rendah. Untuk menaksir kemampuan siswa perlu diperhatikan
faktor usia, lingkungan kehidupan, kesiapan mental, serta banyaknya kesempatan
memperoleh pengalaman dari lingkungannya.
4. Pertanyaan hendaknya mendorong meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Pertanyaan
yang bersifat "drill" ditujukan untuk membantu siswa dalam memperoleh kemampuan
kecepatan bereaksi. Pertanyaan dengan tujuan drill saja belum cukup; pertanyaan
itu harus mampu mendorong siswa beripikir. Pertanyaan semacam itu membantu siswa
untuk menumbuhkan kemampuan menganalisis, mensintesis, dan menyusun jawaban
pertanyaan tidak dalam satu kata atau satu kalimat saja.
5. Hendaknya struktur kalimat tidak mengarah pemberian jawaban terhadap pertanyaan
yang diajukan. Seringkali guru terperosok ke dalam pengarahan jawaban dengan
pertanyaan yang diajukan. Misalnya: "Bukankah Bung Karno itu Presiden pertama
Republik Indonesia"
6. Pertanyaan yang diajukan hendaknya menghindarkan perolehan jawaban ya atau
tidak. Pertanyaan yang menunjuk jawaban ya atau tidak, membuka peluang yang luas
masuknya unsur menduga dalam jawaban. Meskipun siswa tidak mengetahui tentang
masalah yang ditanyakan, kemungkinan jawaban ya atau tidak yang benar atau salah
50 - 50.
7. Pertanyaan hendaknya hanya berkaitan dengan satu ide. Pertanyaan yang mengandung
beberapa ide sukar ditangkap dan membingungkan siswa. Misalnya dalam pertanyaan
berikut: "Sebutkan nama dan tempat kelenjar pencernaan yang ada dalam tubuh kita
dan terangkan bekerjanya masing-masing kelenjar secara terinci". Biasanya bagian
akhir pertanyaan tidak dapat ditangkap siswa, sehingga memerlukan pengulangan.
Pertanyaan yang dapat diingat hanya sebagian saja; misalnya: "Sebutkan nama dan
tempat kelenjar".
8. Pertanyaan hendaknya mencerminkan satu tujuan. Pertanyaan tidak ada artinya bila
tidak memiliki tujuan tertentu yang harus diketemukan siswa dengan pertanyaan
tersebut.
9. Pertanyaan hendaknya tidak menggunakan bahasa sebagai yang terdapat dalam buku
teks. Pengulangan kembali kata-kata dalam buku teks mendorong siswa menghafal
isi buku secara kata demi kata. Bahasa pertanyaan hendaknya bahasa non teks book.
4. Pedoman Mengajukan Pertanyaan
Pertanyaan yang baik dapat meningkatkan fungsi pertanyaan. Moedjiono, dkk (1996) menyampaikan rambu-rambu mengajukan pertanyaan sebagai berikut.
a. Pertanyaan hendaknya diarahkan ke seluruh kelas terlebih dahulu sebelum
ditujukan kepada seorang siswa untuk menjawabnya. Teknik ini mempunyai nilai
edukatif yang penting yakni berikut. (1) Untuk mengarahkan perhatian siswa ke
arah situasi kelas. Siswa yang perhatiannya menyimpang, akan dikembalikan
perhatiannya dalam situasi kelas bila terdapatpertanyaan untuk dijawab. (2)
Memberi kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban yang tepat menurut
pendapatnya masing-masing. Apabila pertanyaan langsung ditujukan kepada murid
tertentu maka hanya murid itu saja yang harus memikirkan jawabannya sedang siswa
yang lain masa bodoh. Kalau seorang siswa langsung harus memberi jawaban maka
hanya siswa-siswa yang berminat saja yang memperhatikan. (3) Mengajukan
pertanyaan ke seluruh kelas akan mendorong siswa memperhatikan secara kritis
terhadap jawaban yang diberikan oleh siswa yang lain karena semua siswa telah
merumuskan jawabannya. Masing-masing dapat melihat persamaan dan perbedaan
jawaban masing-masing. Adanya perbedaan atau pertentangan pendapat dalam kelas
akan membantu penalaran siswa.
b. Pertanyaan hendaknya sejauh mungkin menyebar ke seluruh kelas. Seringkali
terjadi siswa tertentu memperoleh pertanyaan yang relatif banyak sedang siswa
lain sedikit atau bahkan tidak pernah mendapat pertanyaan sepanjang jam
pelajaran. Apabila tidak bijaksana guru akan cenderung mengajukan pertanyaan
kepada siswa yang menjawab dengan tepat. Siswa tersebut berpartisipasi di kelas
(memberi jawaban).
c. Siswa mendapat waktu yang cukup untuk merumuskan jawaban pertanyaan. Dalam hal
ini diperlukan kesabaran. Guru sering melupakan menyatakan bahwa saat guru
mengajukan pertanyaan pada siswa ia telah memiliki jawabannya dalan benaknya
sebelum pertanyaan dilontarkan kepada siswa; sedang siswa masih harus memikirkan
dan merumuskan makna pertanyaan tersebut, masih harus menggali pengalaman-
pengalaman yang sesuai dengan pertanyaan, mengevaluasi, membuat kesimpulan,
memilih kata-kata yang tepat untuk menyusun jawaban pertanyaan itu. Meskipun
mungkin siswa cukup menguasai bahan-bahan, dan kemampuan proses mental yang cepat
masih memerlukan waktu untuk merumuskan pernyataan jawaban.
d. Nada dan tekanan suara tidak memberikan petunjuk jawaban pertanyaan yang
diajukan.
e. Janganlah segera menyalahkan siswa bila tidak dapat menjawab pertanyaan.
Usahakan tidak memberi pertanyaan di luar kemampuan siswa.
f. Susunlah pertanyaan hanya bertalian dengan hal pokok saja.
g. Hendaknya guru tidak mengulang pertanyaan yang diajukan. Bila siswa mengetahui
guru akan mengulang pertanyaan yang akan diajukan maka perhatian siswa akan
berkurang. Untuk mendapat perhatian yang tidak terbagi-bagi, lampauilah siswa
yang tidak memperhatikan dengan mengajukan pertanyaan pada siswa yang lain. Dari
pada kita berkata kurang baik, sikap demikian akan menjadikan siswa menyadari
bahwa bila tidak memperhatikan maka menjadikan kehadirannya di kelas tidak
mempunyai makna. Kebijaksanaan semacam ini akan menjadikan siswa terdorong untuk
mencurahkan perhatian sepenuhnya.
h. Hendaknya guru tidak mengulang jawaban. Dengan tidak mengulang jawaban siswa
akan mendengarkan dengan penuh perhatian sementara guru dan siswa lain
berbicara. Jawaban merupakan fakta yang berguna bagi kelas. Jawaban menimbulkan
evaluasi kritis dan cermat bagi siswa lain. Selanjutnya siswa harus dilatih tata
cara berbicara; cukup jelas dan keras, sehingga dapat didengar oleh seluruh
kelas. Kesadaran siswa akan tanggung jawab kelas banyak membantu dalam
merumuskan apa yang ingin dikatakan pada kelas dengan penuh hati-hati. Dituntut
inisiatif guru untuk memperkenalkan dan menumbuhkan tanggung jawab siswa.
i. Seringkali guru dapat bertanya kepada siswa yang tidak memperhatikan. Cara ini
merupakan salah satu upaya untuk menegakkan situasi disipliner dan mengembalikan
perhatian. Namun bila terlalu sering dilakukan maka pertanyaan hanya melayani
satu fungsi pendidikan saja
j. Pertanyaan hendaknya diajukan sedemikian rupa sehingga dapat menumbuhkan
kepercayaan diri pada siswa. Misalnya dengan pernyataan: "Tentu kamu dapat
menjawab"; adalah contoh menumbuhkan kepercayaan pada siswa yang menyertai
pertanyaan yang diajukan Siswa mendapat tantangan untuk tidak mengecewakan guru.
Secara psikologis murid akan menggunakan kekuatan yang tersembunyi (laten)
secara maksimal.
k. Dalam bertanya hendaknya guru dapat menyesuaikan situasi kelas yang sedang
berlangsung. Misalnya siswa baru selesai menghadapi ulangan, atau baru memasuki
hari pertama sesudah liburan.
5. Penggunaan Kata Bertanya Dasar
Termasuk kata bertanya dasar adalah kata-kata berikut: apa, bagaimana, mengapa,
siapa, di mana, kapan, yang mana. Setiap penggunaan kata bertanya dasar itu
memiliki tujuan penggunaan kata bertanya dasar apa yang bertujuan mendorong
siswa mengembangkan kejelasan sesuatu benda, orang, situasi, atau proses yang
sedang diamati; melihat persamaan dan perbedaan pengamatannya sekarang dengan
pengalaman yang sudah dimiliki.
Penggunaan kata bertanya bagaimana bertujuan untuk memotivasi siswa untuk mengembangkan kemampuan menggunakan informasi yang telah dimiliki agar dapat memecahkan persoalan yang dihadapi. Penggunaan kata bertanya mengapa bertujuan untuk untuk memotivasi siswa berpikir kritis, menggunakan penalarannya dengan memadukan apa yang diamatinya sekarang dengan perbendaharaan pengetahuan yang sudah dimiliki.
a. Penggunaan kata bertanya siapa bertujuan untuk memotivasi siswa, mengembangkan
kemampuan melihat hubungan benda, situasi, proses, dengan pelakunya.
b. Penggunaan kata bertanya di mana bertujuan untuk memotivasi siswa mengembangkan
kemampuan siswa melihat hubungan benda, situasi, proses, orang dengan tempat
terjadinya atau tempat berlangsungnya.
c. Penggunaan kata bertanya kapan bertujuan untuk memotivasi siswa mengembangkan
kemampuan melihat benda, situasi, proses, orang dengan waktu (hari, tanggal,
jam, saat pagi, siang, petang, malam, dan sebagainya) terjadinya atau
berlangsungnya.
d. Penggunaan kata bertanya yang mana bertujuan untuk memotivasi siswa
mengembangkan kemampuan siswa melihat persamaan, perbedaan, membandingkan,
memilih benda atau orang, atau situasi, atau proses sehingga dapat menentukan
sikap terhadap sesuatu yang diamati. Karena peristiwa pembelajaran yang
dilakukan guru di kelas itu merupakan kegiatan yang tujuannya sudah jelas yakni
perolehan hasil belajar pada siswa sebagaimana yang telah ditetapkan rumusannya
dalam GBPP maka penggunaan kata bertanya itu harus tetap dalam kaitan pencapaian
tujuan pembelajaran tersebut. Oleh karena itu keterkaitan antara kata bertanya
yang kita pergunakan dalam metode tanya jawab dengan TIK harus jelas.
Keterampilan Bertanya Dasar
Pertanyaan yang baik ditinjau dari segi isinya, tetapi cara menyajikannya kepada murid tidak tepat (umpamanya tidak jelas dalam menyampaikannya), akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan yang dikehendaki. Oleh karena itu aspek teknik pertanyaan harus pula dipahami dan dilatih, agar guru dapat menggunakan pertanyaan secara efektif dalam proses belajar mengajarnya. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengajukan pertanyaan antara lain adalah seperti berikut.
Kejelasan dan kaitan pertanyaan
Harap diusahakan agar pertanyaan yang dikemukakan itu jelas maksudnya, serta nampak benar kaitannya antara jalan pikiran yang satu dengan lainnya. Usahakan tidak diselingi oleh kata-kata sisipan yang bersifat mengganggu ,misalnya: ee, em, er, anu dan lain-lain. Berikut ini disajikan contoh pertanyaan yang tidak jelas maksud serta kaitannya. Guru: Nah, anak anak sekarang akan, eh saya maksud siapa dapat menjawab, em dapat menyebutkan, eh dapat memberikan alasan mana, yang lebih baik menggunakan kail atau membeli tombak untuk mendapatkan ikan di laut.
Pertanyaan tersebut dikatakan tidak jelas maksudnya karena menggambarkan jalan pikiran yang belum terkonsolidasi dan bagaimana kaitannya antara menggunakan kail dan membeli tombak. Pertanyaan tersebut semestinya dapat disederhanakan sebagai berikut.
Guru: Nah anak-anak, bagaimana menurut pendapatmu, manakah yang lebih baik menggunakan kail atau tombak untuk memperoleh ikan di laut?
Kecepatan dan selang waktu (pause)
Kecepatan menyampaikan pertanyaan, tergantung pada jenis pertanyaan itu sendiri. Pada umumnya guru-guru muda (belum berpengalaman) cenderung banyak melontarkan pertanyaan dari pada menerima jawaban, dan pertanyaan-pertanyaannya diucapkan dengan cepat tanpa diselingi pause untuk memberi kesempatan murid berfikir.berikut ini disajikan semacam resep tata cara menyampaikan pertanyaan. Usahakan dalam menyampaikan pertanyaan dengan ucapan yang jelas serta tidak tergesa-gesa. Pertanyaan yang diucapkan dengan cepat dan tergesa-gesa akan menimbulkan ketidakmengertian pada murid.
Begitu pertanyaan selesai diucapkan, berhentilah sejenak untuk memberikan kesempatan berfikir kepada murid sementara itu sambil memonitor keadaan kelas, apakah sudah ada yang siap mengajukan jawaban. Murid yang sudah siap untuk mengajukan jawaban biasanya gerak-geraknya dapat ditandai sebagai berikut. Menggeserkan duduknya agak maju dengan mulut setengah terbuka siap mengucapkan sesuatu. Menengadahkan wajahnya dengan pandangan mata yang agak lebar. Mengacungkan tangan bahkan ada yang sampai berdiri.
Pemberian Waktu berfikir (Pausing)
Berikan waktu sejenak (1-5 detik) kepada murid untuk berfikir dalam rangka menemukan jawabannya. Pemberian waktu untuk memberikan kesempatan berfikir pada murid itu ada efek positifnya, misalnya: Murid dapat memberikan jawaban lebih panjang dan lengkap. Jawaban murid lebih analistis, sintetis, dan kreatif. Murid akan merasa yakin akan jawabannya. Partisipasinya murid meningkat.
Arah dan distribusi penunjukan (Penyebaran)
Pertanyaan diajukan seharusnya kepada seluruh murid, sehingga seluruh murid di dorong untuk berusaha menentukan jawabannya. Hanya dalam keadaan tertentu, umpamanya untuk memusatan perhatian seorang siswa, pertanyaan langsung dapat ditujukan kepada seorang murid. Meskipun demikian pertanyaan harus disampaikan terlebih dahulu sebelum menunjuk siswa yang dikehendaki. Secara teknis, teknik penyebaran pertanyaan ini dapat dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan ke seluruh anggota kelas, serta memberikan waktu berfikir untuk beberapa saat, kemudian guru baru menunjuk siswa yang dikehendaki untuk memjawabnya. Maksud dari teknik bertanya tersebut adalah pertanyaan dapat difikirkan oleh semua siswa.
Dengan lain perkataan, penggunaan teknik penyebaran pertanyaan ini adalah menyangkut pemerataan pertanyaan. Sebab dengan cara siswa yang mampu agar mengangkat tangan seringkali tidak tepat. Ada sejumlah anak yang mampu menjawab tetapi mereka merasa malu untuk mengangkat tangannya. Dengan penunjukkan, siswa yang merasa malu untuk mengangkat tangan dapat memperoleh giliran menjawab.
Secara didaktis, dengan teknik penunjukkan tersebut, jawaban yang disampaikan diharapkan dapat menjadi pengalaman belajar (pengetahuan) bagi teman-teman lainnya.
Teknik Menuntun (promting Question)
Teknik menuntun digunakan manakala siswa tidak segera menemukan jawaban dari pertanyaan yang diajukan guru. Mendapat kenyataan tersebut, maka guru perlu tanggap bahwa tidak adanya siswa yang menjawab tersebut sangat dimungkinkan karena pertanyaan yang diajukan terlalu tinggi tingkat abstraksinya. Dapat juga cakupan variabelnya terlalu luas sehingga siswa kesulitan dalam teknik menjawabnya.
Disamping itu ketidakmampuan anak menjawab pertanyaan tersebut dapat juga akibat dari yang lain misalnya, kalimat pertanyaan yang digunakan guru kurang difahami anak. Dalam keadaan yang seperti itu, adalah tugas guru untuk menuntun langkah berfikirnya anak. Sehingga dengan tuntunan yang diberikan tersebut anak terarahkan jalan fikirannya untuk menjawab pertanyaan utama.
Teknik menuntun tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya (1) menyederhanakan pertanyaan, (2) memecah pertanyaan menjadi beberapa bagian pertanyaan yang dapat mengarahkan anak secara perlahan-lahan ke pertanyaan awal, (3) mengganti kalimat pertanyaan menjadi kalimat yang lain tetapi maksudnya sama, (4) memberikan pertanyaan yang
jawabannya dapat memancing fikiran anak untuk menemukan jawaban pertanyaan semula.
Guru : Pada pertemuan yang lalu kita telah mempelajari tentang sistematika hewan rendah, khususnya protozoa, Porifera, Colenterata maupun Vermes. Coba kamu Habib.....menurut pendapatanmu mana yang lebih tinggi tingkatnya, Prifera atau Colenterata?
Habib: diam (sedang berfikir)
Guru : Silahkan ditinjau lebih dahulu tentang sistem pencernaan makanannya, naa.....bagaimana Habib?
Teknik menggali (Probing Question)
Probing question ialah pertanyaan yang bersifat menggali untuk mendapatkan jawaban lebih lanjut dari murid dengan maksud untuk mengembangkan kwalitas jawaban yang pertama, sehingga yang berikutnya lebih jelas, akurat, serta lebih beralasan. Disamping itu, dengan teknik bertanya menggali ini guru dapat mgetahui tingkat kedalaman pengetahuan anak.
Contoh:
Guru : Setelah kemarin kita bersama-sama meninjau tambak bandeng, bagaimana pendapatmu tentang tambak bandeng tersebut Ali?
Murid: Sangat menarik, pak!
Guru : Faktor apa yang menarik?
Pemusatan (Focusing)
Teknik ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang ruang lingkupnya luas, kemudian di lanjutkan ke pertanyaan yang lebih khusus.
Contoh: "Meliputi jenis apa saja bahan bakar itu"?
"Premium digunakan sebagai bahan bakar kendaraan jenis apa? (pertanyaan sempit memusat)
Pindah gilir (re-derecting)
Teknik pindah gilir digunakan untuk mengundang partisipasi semua anak. Untuk itu teknik ini di lakukan dengan cara, mengajukan pertanyaan ke seluruh kelas, kemudian memilih siswa tertentu, dan lanjutkan ke siswa yang lain.
Contoh: Sebutkan fungsi air bagi manusia? (diam sejenak), kemudian menunjuk siswa untuk menjawab, setelah salah satu anak menjawab, diteruskan lagi menunjuk anak yang lain untuk menjawab dengan jawaban yang lain lagi.
Perubahan tingkat Kognitif
Pertanyaan untuk kelas, diberikan dengan memperhatikan variasi tuntutan tingkat kognitif. Pertanyaan tertentu memiliki kadar kognitif tinggi ( analisis-sintesisi-evaluasi), divariasikan dengan pertanyaan-pertanyaan kognitif tingkat rendah ( pengetahuan hafalan-pemahaman – aplikasi). Dapat juga secara bervariasi , mengubah-ubah tingkatan pertanyaan, misalnya pertanyaan konvergen-divergen, secara berganti-ganti.
Jumat, 08 April 2011
DARIMANAKAH CINTA ITU BERASAL
Jika Anda menanyakan darimana cinta itu berasal tentu bisa dijawab
dengan jawaban cinta itu berasal dari takdir Tuhan. Jawaban tersebut
memang benar tetapi tidak memuaskan. :)
Secara ilmiah ini memang agak membingungkan, akan tetapi ilmu
pengetahuan mengatakan, jawabanya adalah jatuh cinta itu berasal dari
hidung lalu turun ke hati. Loh !? Bukan dari mata turun ke hati toh..!!??
Ya, memang begitulah adanya. Perasaan cinta yang kita rasakan muncul
karena di dalam tubuh diproduksi beberapa zat-zat tertentu yang sedikit
membius otak dan efeknya bisa disamakan dengan efek narkoba. Salah
satu zat ini dinamakan feromon.
Istilah feromon berasal dari bahasa Yunani yaitu “phero” yang artinya
“pembawa” dan “mone” “sensasi” (feromon = pembawa sensasi). Senyawa
feromon sendiri didefinisikan sebagai suatu subtansi kimia yang berasal
dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh mahluk hidup untuk
mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu
proses reproduksi. Senyawa feromon pada manusia terutama dihasilkan
oleh kelenjar endokrin pada ketiak, telinga, hidung, mulut, kulit, dan
kemaluan. Feromon aktif apabila yang bersangkutan telah akil balig.
Feromon ini bisa mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh manusia
lainnya (terutama otak). Contoh paling mudah adalah "bau badan". Hus
jangan salah !, lepas dari jenis bau badan menyengat hingga bikin orang
lain menjauh, setiap manusia punya bau yang khas dan menjadi ciri
dirinya. Oleh para ahli dianalogikan bahwa bau badan itu seperti "sidik
jari”. Jadi, kita masing-masing punya bau yang unik dan sangat berbeda
dengan manusia lainnya. Dengan demikian feromon yang dihasilkan
manusia, di masa depan bisa jadi salah satu identitas diri.
Sifat dari senyawa feromon sendiri tidak kasat mata, mudah menguap,
tidak dapat diukur, tetapi ada dan dapat dirasakan oleh manusia.
Senyawa feromon ini biasa dikeluarkan oleh tubuh saat sedang
berkeringat dan dapat tertahan dalam pakaian yang kita gunakan.
Feromon pada manusia merupakan sinyal kimia yang berada di udara
yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan
oleh vomeronasalorgan (VMO) di dalam indra pencium. Sinyal feromon
ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama
hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan
respons perilaku dan fisiologis. Menimbulkan rasa ketertarikan antara
dua orang berlainan jenis dengan bekerja sebagai pemicu dalam reaksireaksi
kimia. Ketika dua orang berdekatan dan bertatapan mata, maka
feromon akan tercium oleh organ tubuh manusia yang paling sensitif
yaitu VMO, organ dalam lubang hidung yang mempunyai kepekaan
ribuan kali lebih besar daripada indera penciuman. Dari disinilah terjadi
apa yang dinamakan dengan cinta. (he2. tampaknya jadi terdengar
kurang romantis ya..)
Konon kemampuan tubuh untuk menghasilkan feromon berkurang
setelah dua sampai empat tahun. Apakah ini berarti cinta itu hanya
bersifat sementara?.
Ada banyak definisi tentang cinta, ada yang bilang cinta itu takdir, cinta
itu buta, cinta itu indah, cinta itu luapan emosi, cinta itu kagum atau
menyukai sesuatu, dan lain sebagainya. Pernyataan diatas tentang cinta
itu adalah benar, namun terlepas dari itu semua, ilmu pengetahuan
mengatakan bahwa cinta itu adalah proses biologis berupa reaksi kimia
didalam tubuh kita.
Cinta dipengaruhi oleh pelepasan hormon/neurotransmitter. Hormon
berasal dari bahasa Yunani “Horman” yang berarti “menggerakan”, atau
dengan kata lain hormon adalah pembawa pesan kimiawi antar sel atau
antar kelompok sel. Berbeda dengan feromon yang dapat menyebar ke
luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu
lain yang sejenis (satu spesies), hormon hanya dapat menyebar di
dalam tubuh. Saat kita mencintai seseorang maka dilepaslah hormonhormon
yang membuat tubuh kita bereaksi, merasakan berbagai
perasaan dan emosi.
Salah satu hormon yang dikeluarkan oleh tubuh itu adalah dopamin.
Dopamin ini memiliki efek selayaknya kokaine. Ketika Anda bertemu
seseorang yang Anda sukai, hormon dopamine ini bekerja dan sifatnya
addictive. Artinya mereka yang menyukai pasangannya seakan-akan
ketagihan untuk terus bertemu dengan orang yang disukainya itu.
Dalam proporsi yang tepat, dopamin menciptakan energi intens,
kegembiraan, dan fokus perhatian, dan itulah sebabnya, ketika Anda
baru jatuh cinta, Anda dapat tetap terjaga sepanjang malam, mendaki
gunung lebih cepat, dan menekan batas kemampuan Anda. Cinta
membuat Anda lebih berani menjalani risiko yang biasanya tidak Anda
ambil. (dalam dosis tinggi bisa jadi juga membuat Anda berani
melakukan resiko seperti bunuh diri dll yang bersifat ekstrim.
dengan jawaban cinta itu berasal dari takdir Tuhan. Jawaban tersebut
memang benar tetapi tidak memuaskan. :)
Secara ilmiah ini memang agak membingungkan, akan tetapi ilmu
pengetahuan mengatakan, jawabanya adalah jatuh cinta itu berasal dari
hidung lalu turun ke hati. Loh !? Bukan dari mata turun ke hati toh..!!??
Ya, memang begitulah adanya. Perasaan cinta yang kita rasakan muncul
karena di dalam tubuh diproduksi beberapa zat-zat tertentu yang sedikit
membius otak dan efeknya bisa disamakan dengan efek narkoba. Salah
satu zat ini dinamakan feromon.
Istilah feromon berasal dari bahasa Yunani yaitu “phero” yang artinya
“pembawa” dan “mone” “sensasi” (feromon = pembawa sensasi). Senyawa
feromon sendiri didefinisikan sebagai suatu subtansi kimia yang berasal
dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh mahluk hidup untuk
mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu
proses reproduksi. Senyawa feromon pada manusia terutama dihasilkan
oleh kelenjar endokrin pada ketiak, telinga, hidung, mulut, kulit, dan
kemaluan. Feromon aktif apabila yang bersangkutan telah akil balig.
Feromon ini bisa mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh manusia
lainnya (terutama otak). Contoh paling mudah adalah "bau badan". Hus
jangan salah !, lepas dari jenis bau badan menyengat hingga bikin orang
lain menjauh, setiap manusia punya bau yang khas dan menjadi ciri
dirinya. Oleh para ahli dianalogikan bahwa bau badan itu seperti "sidik
jari”. Jadi, kita masing-masing punya bau yang unik dan sangat berbeda
dengan manusia lainnya. Dengan demikian feromon yang dihasilkan
manusia, di masa depan bisa jadi salah satu identitas diri.
Sifat dari senyawa feromon sendiri tidak kasat mata, mudah menguap,
tidak dapat diukur, tetapi ada dan dapat dirasakan oleh manusia.
Senyawa feromon ini biasa dikeluarkan oleh tubuh saat sedang
berkeringat dan dapat tertahan dalam pakaian yang kita gunakan.
Feromon pada manusia merupakan sinyal kimia yang berada di udara
yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan
oleh vomeronasalorgan (VMO) di dalam indra pencium. Sinyal feromon
ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama
hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan
respons perilaku dan fisiologis. Menimbulkan rasa ketertarikan antara
dua orang berlainan jenis dengan bekerja sebagai pemicu dalam reaksireaksi
kimia. Ketika dua orang berdekatan dan bertatapan mata, maka
feromon akan tercium oleh organ tubuh manusia yang paling sensitif
yaitu VMO, organ dalam lubang hidung yang mempunyai kepekaan
ribuan kali lebih besar daripada indera penciuman. Dari disinilah terjadi
apa yang dinamakan dengan cinta. (he2. tampaknya jadi terdengar
kurang romantis ya..)
Konon kemampuan tubuh untuk menghasilkan feromon berkurang
setelah dua sampai empat tahun. Apakah ini berarti cinta itu hanya
bersifat sementara?.
Ada banyak definisi tentang cinta, ada yang bilang cinta itu takdir, cinta
itu buta, cinta itu indah, cinta itu luapan emosi, cinta itu kagum atau
menyukai sesuatu, dan lain sebagainya. Pernyataan diatas tentang cinta
itu adalah benar, namun terlepas dari itu semua, ilmu pengetahuan
mengatakan bahwa cinta itu adalah proses biologis berupa reaksi kimia
didalam tubuh kita.
Cinta dipengaruhi oleh pelepasan hormon/neurotransmitter. Hormon
berasal dari bahasa Yunani “Horman” yang berarti “menggerakan”, atau
dengan kata lain hormon adalah pembawa pesan kimiawi antar sel atau
antar kelompok sel. Berbeda dengan feromon yang dapat menyebar ke
luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu
lain yang sejenis (satu spesies), hormon hanya dapat menyebar di
dalam tubuh. Saat kita mencintai seseorang maka dilepaslah hormonhormon
yang membuat tubuh kita bereaksi, merasakan berbagai
perasaan dan emosi.
Salah satu hormon yang dikeluarkan oleh tubuh itu adalah dopamin.
Dopamin ini memiliki efek selayaknya kokaine. Ketika Anda bertemu
seseorang yang Anda sukai, hormon dopamine ini bekerja dan sifatnya
addictive. Artinya mereka yang menyukai pasangannya seakan-akan
ketagihan untuk terus bertemu dengan orang yang disukainya itu.
Dalam proporsi yang tepat, dopamin menciptakan energi intens,
kegembiraan, dan fokus perhatian, dan itulah sebabnya, ketika Anda
baru jatuh cinta, Anda dapat tetap terjaga sepanjang malam, mendaki
gunung lebih cepat, dan menekan batas kemampuan Anda. Cinta
membuat Anda lebih berani menjalani risiko yang biasanya tidak Anda
ambil. (dalam dosis tinggi bisa jadi juga membuat Anda berani
melakukan resiko seperti bunuh diri dll yang bersifat ekstrim.
Langganan:
Postingan (Atom)
MAJENE DALAM BINGKAI MANDAR PRA ISLAM A. Tinjauan Umum Mandar Mengenal Mandar dalam perkembangan bingkai peta suku bangs...
-
ISLAM DI TANAH MANDAR Kawasan Asia Tenggara sejak awal abad pertama Masehi telah berfungsi sebagai jalur lalu lintas perdagangan bagi para...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mandar adalah salah satu suku bangsa di Indonesia yang memiliki empat belas kerajaan bes...
-
Kampung di sebut “ku” atau “kuco” dan juga dipimpin oleh seorang bumi putra lalu dusun dan R.T masing-masing di sebut “aza” dan “gumi” setel...